Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% dalam rapat terbaru. Keputusan ini diwarnai perpecahan internal yang cukup tajam, dengan delapan pejabat mendukung dan empat lainnya menolak menjadi voting paling terbelah sejak 1992.
Pasar kripto langsung merespons. Harga Bitcoin sempat turun dari US$ 79.500 ke US$ 75.000 hanya dalam beberapa jam setelah pengumuman. Meski sempat rebound ke US$ 77.000, Bitcoin kini bergerak stabil di kisaran US$ 75.700.
Baca Juga: Unilever (UNVR) Raih Kinerja Positif di Kuartal I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai perpecahan di tubuh bank sentral Amerika Serikat ini justru memberi sinyal campuran bagi pasar. Di satu sisi, peluang pemangkasan suku bunga belum tentu terjadi dalam waktu dekat. Namun di sisi lain, ruang kenaikan suku bunga juga semakin terbatas.
"Ini menciptakan semacam kebekuan kebijakan. Bagi pasar kripto, kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa ketidakpastian ekstrem mulai mereda," tulis Fahmi dalam keterangan resminya, Kamis (30/4).
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyebut perdebatan internal dipicu oleh serangkaian guncangan pasokan global, mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga kebijakan tarif perdagangan.
Di tengah dinamika tersebut, perhatian pasar juga tertuju pada sosok Kevin Warsh, calon pengganti Powell yang telah lolos tahap awal di Senat. Warsh sebelumnya menyebut aset kripto sebagai bagian dari sistem keuangan, meski pengaruh kebijakannya diperkirakan tidak akan langsung signifikan.
Sementara itu, faktor yang justru menguat di balik pelemahan harga jangka pendek adalah arus masuk dana institusi. Sepanjang 2026, perusahaan Strategy tercatat telah menambah 145.837 BTC, sehingga total kepemilikannya mencapai 818.334 BTC.
Tak hanya itu, dalam dua bulan terakhir, sekitar US$ 3,5 miliar dana segar juga mengalir ke ETF Bitcoin spot. Ini menunjukkan minat institusional terhadap aset kripto masih kuat, bahkan saat harga mengalami koreksi.
Fahmi menilai, kondisi ini menegaskan bahwa penurunan harga Bitcoin saat ini bukan mencerminkan pelemahan fundamental.
"Akumulasi institusi tetap berjalan baik saat harga naik maupun turun. Ini sinyal bahwa tren jangka panjang masih solid," ujarnya.
Dari sisi regulasi, pasar juga menantikan pembahasan RUU Clarity Act di Amerika Serikat. Regulasi ini berpotensi menetapkan Bitcoin sebagai komoditas digital di bawah pengawasan CFTC, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi lembaga keuangan.
Jika disahkan, beleid tersebut dinilai dapat mempercepat adopsi institusional secara lebih luas.
Melihat kombinasi faktor tersebut, Fahmi menyarankan investor untuk tetap fokus pada strategi jangka panjang, seperti dollar cost averaging (DCA), guna memitigasi volatilitas pasar.
"Momentum koreksi seperti saat ini justru bisa menjadi titik masuk yang menarik, terutama bagi investor dengan horizon investasi panjang," tutupnya.
Baca Juga: SSMS Sepakat Bagikan Dividen Rp 800 Miliar dari Laba Buku 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












