Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan dan kinerjanya tertinggal dibandingkan mata uang tetangga.
Berdasarkan data Trading Economics, dalam sebulan terakhir ringgit Malaysia menguat 1,93% dan dolar Singapura terapresiasi 0,75%. Sebaliknya, rupiah justru melemah 2,09% secara bulanan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai perbedaan kinerja tersebut mencerminkan perubahan persepsi pasar terhadap mata uang Asia.
"Pasar tidak lagi memperlakukan semua mata uang Asia secara sama. Rupiah bergerak di tengah kondisi yang lebih menantang bagi emerging markets," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (30/4).
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Saham Berbasis Ekspor dan Komoditas Bisa Jadi Pilihan
Dari sisi global, tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih tinggi.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan mengisyaratkan sikap hati-hati seiring inflasi yang kembali meningkat.
Inflasi PCE tahunan AS tercatat naik ke 3,5% dengan inflasi inti di level 3,2%.
Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga energi tetap tinggi. Alhasil, US Dollar Index bertahan di kisaran 98,46, sementara kurs USD/IDR ditutup di level Rp17.346.
Josua menjelaskan, penguatan ringgit dan dolar Singapura didukung faktor spesifik.
Ringgit diuntungkan oleh posisi Malaysia sebagai negara berbasis komoditas yang sensitif terhadap kenaikan harga energi.
"Ringgit memiliki sensitivitas berbeda terhadap harga energi, sehingga lebih diuntungkan dibanding rupiah," kata Josua.
Sementara itu, dolar Singapura mendapat dukungan dari statusnya sebagai aset defensif di kawasan, ditopang pasar obligasi yang dalam serta kredibilitas kebijakan moneter berbasis nilai tukar.
Di sisi lain, rupiah menghadapi tekanan tambahan dari domestik.
Sepanjang April, pelemahan tidak hanya dipicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, tetapi juga meningkatnya permintaan valas di dalam negeri, seperti untuk repatriasi dividen, pembayaran impor, serta kenaikan ongkos pengiriman.
Tekanan makin besar karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak jenis Brent crude oil ke kisaran US$ 111–112 per barel meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap defisit transaksi berjalan, subsidi energi, inflasi, hingga tekanan pada APBN.
"Mata uang negara pengimpor minyak seperti rupiah cenderung lebih rentan saat harga minyak tinggi,"ujar Josua.
Dari sisi aliran dana, dukungan terhadap rupiah juga dinilai belum kuat.
Pada kuartal I-2026, investor asing mencatat arus keluar bersih sekitar US$1,79 miliar dari pasar domestik, terdiri dari obligasi US$ 1,48 miliar dan saham US$ 1,95 miliar, meski instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia mencatat aliran masuk US$ 1,64 miliar.
Memasuki April 2026, arus masuk tercatat sekitar US$630 juta. Namun, pasar saham masih mencatat outflow sekitar US$904 juta sehingga dukungan terhadap rupiah belum solid.
Sebaliknya, Malaysia masih mencatat arus modal masuk yang relatif konsisten, sehingga ringgit lebih mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS.
Selain faktor fundamental, rupiah juga terbebani persepsi risiko terhadap ekonomi domestik.
Investor mencermati potensi pelebaran defisit fiskal, beban subsidi energi, serta risiko terhadap peringkat utang Indonesia.
Dalam konteks global, Indonesia juga dinilai lebih rentan terhadap dampak konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
"Pasar saat ini lebih fokus pada risiko jangka pendek, seperti impor energi dan kebutuhan dolar, dibandingkan fundamental yang relatif stabil," kata Josua.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah tidak semata disebabkan oleh kuatnya dolar AS.
Ringgit Malaysia ditopang sentimen komoditas dan arus modal, sementara dolar Singapura didukung status safe haven dan kredibilitas kebijakan.
Sebaliknya, rupiah menghadapi kombinasi tekanan dari kenaikan harga minyak, tingginya kebutuhan dolar domestik, risiko fiskal, serta arus keluar modal.
"Rupiah membawa risiko tambahan yang lebih besar dibandingkan mata uang kawasan, sehingga kinerjanya tertinggal," tutupnya
Baca Juga: Demam Pokémon Card, Pikachu Illustrator Jadi Aset Koleksi Bernilai Tinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













