kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

The Fed Masih Hawkish, Harga Emas Berisiko Lanjut Koreksi


Kamis, 25 Juni 2026 / 17:30 WIB
The Fed Masih Hawkish, Harga Emas Berisiko Lanjut Koreksi
ILUSTRASI. Harga emas spot melemah drastis hingga 11,53% sebulan. Analis sebut level US$ 3.900-US$ 3.800 bisa jadi titik beli ideal.  (REUTERS/Alexander Manzyuk)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia masih melanjutkan tren pelemahannya di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. 

Kondisi tersebut membuat minat investor terhadap emas berkurang karena dinilai kalah menarik dibandingkan aset berbasis dolar AS dan obligasi pemerintah AS. 

Melansir Trading Economics pada Kamis (25/6/2026) pukul 16.50 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 3.986,16 per ons troi atau melemah sebanyak 5,22% dalam sepekan dan 11,53% dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: RMK Energy (RMKE) Siapkan Dana Rp 116 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

Harga emas spot saat ini dapat dibilang sudah cukup murah, mengingat pada akhir Januari 2026 lalu sempat terbang hingga menyentuh US$ 5.500 per ons troi.

Direktur Utama Dupoin Futures Indonesia, Gunawan Herman,  menyebut pelemahan harga emas saat ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang didukung oleh sejumlah data ekonomi AS yang masih solid. Saat ini suku bunga The Fed berada di level 3,50% hingga 3,75%.

Menurutnya, data tenaga kerja, inflasi, dan kondisi ekonomi AS sepanjang Juni menunjukkan perkembangan yang cukup positif sehingga memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish). 

 “Kondisi ini membuat aset emas saat ini belum menjadi incaran para retail investor karena belum memberikan imbal hasil yang menarik seperti dolar dan obligasi Amerika serikat,” ujar Gunawan saat dihubungi Kontan, Kamis (25/6/2026).

Dari sisi teknikal, Gunawan melihat tekanan terhadap harga emas masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Gunawan mencermati pada grafik mingguan (weekly time frame), harga emas masih menunjukkan peluang pelemahan menuju level US$ 3.900 per ons troi.

Karena itu, ia menilai investor belum perlu terburu-buru melakukan akumulasi dalam jumlah besar dan sebaiknya menunggu perkembangan sentimen pasar berikutnya.

Baca Juga: Menanti Data Ekonomi AS, Begini Proyeksi Rupiah Jumat (26/6)

“Kita perlu melihat terlebih dahulu prospek ke depan, apakah ada sentimen positif atau tidak pada level tersebut. Dibutuhkan katalis tambahan dari kondisi makro ekonomi untuk mulai akumulasi," lanjutnya.

Meskipun demikian, Gunawan menilai emas tetap memiliki daya tarik sebagai aset safe haven, terutama dalam jangka panjang. Namun untuk sisa tahun 2026, prospek pergerakan harga emas masih akan sangat dipengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Menurutnya, apabila ekspektasi kenaikan suku bunga AS tetap bertahan, harga emas berpotensi bergerak lebih rendah. “Dengan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed masih bisa terjadi kita akan mulai melihat level US$ 3.900 hingga US$ 3.800 sebagai level pembelian,” ungkapnya.

Untuk akhir tahun 2026, Gunawan menyoroti sejumlah level teknikal penting yang perlu dicermati pelaku pasar. Ia memberikan prospek area support harga emas spot bisa berada pada kisaran US$ 3.800 hingga US$ 3.600 per ons troi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×