Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Kamis (25/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,05% secara harian ke Rp 17.943 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,07% secara harian ke Rp 17.942 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS oleh pulihya sentimen umum di pasar dan kembali masuknya dana asing ke pasar domestik.
Walau investor cenderung masih hati – hati mengantisipasi data penting inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS malam ini.
Baca Juga: Ekspektasi Kebijakan The Fed, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin (22/6/2026)
“Untuk besok, penguatan atau perlemahan rupiah besok akan tergantung pada hasil rilis data PCE AS ini. Namun rupiah diperkirakan masih berpotensi menguat apabila data PCE AS tidak lebih kuat dari perkiraan,” ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (25/6).
Lukman memproyeksikan rupiah besok (26/6) berada dikisaran Rp 17.900 – Rp 18.000 per dolar AS.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, menguatnya rupiah karena harga minyak mentah global telah turun. Kesepakatan awal untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, telah memungkinkan lalu lintas distribusi dimulai kembali sehingga meredakan kekhawatiran pasokan.
“Ini yang membuat harga minyak mentah dunia terus merosot tajam pekan ini,” kata Ibrahim, Kamis (25/6).
Ibrahim melihat pernyataan Menteri Energi AS Chris Wright yang mengatakan bahwa aliran distribusi melalui Selat Hormuz hampir sama seperti sebelum dimulainya perang Iran, dengan mengatakan setidaknya 20 juta barel telah keluar dari selat dalam 24 jam terakhir.
Ia menambahkan bahwa kembalinya kondisi normal sepenuhnya akan memakan waktu beberapa minggu karena selat tersebut perlu dibersihkan dari ranjau.
Baca Juga: BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75%, Begini Proyeksi Rupiah Sampai Akhir Tahun
Kesepakatan AS – Iran menetapkan periode negosiasi selama 60 hari untuk menangani isu-isu yang lebih sulit termasuk program nuklir Iran.
“Wright mengatakan minyak akan terus mengalir melalui selat bahkan jika kesepakatan tersebut tidak berlaku, dan bahwa Iran tidak akan dapat menutupnya lagi,” ucap Ibrahim.
Adapun, untuk besok, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Hal ini karena penurunan harga minyak dinilai belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve (Fed).
Sebab bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026, sementara mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil.
Baca Juga: Dipengaruhi Sentimen MSCI Review, Begini Proyeksi Rupiah Rabu (24/6)
Ibrahim memperkirakan rupiah besok (26/6) bergerak fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.940 – Rp 17.990 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














