kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.950   -23,00   -0,13%
  • IDX 6.042   158,10   2,69%
  • KOMPAS100 788   24,24   3,17%
  • LQ45 595   17,11   2,96%
  • ISSI 209   5,50   2,71%
  • IDX30 337   9,80   2,99%
  • IDXHIDIV20 413   11,25   2,80%
  • IDX80 89   2,65   3,06%
  • IDXV30 112   3,11   2,86%
  • IDXQ30 108   3,19   3,04%

Tertekan Sentimen Eksternal, Rupiah Berisiko Kembali ke Rp 18.000 per Dolar AS


Kamis, 25 Juni 2026 / 10:45 WIB
Tertekan Sentimen Eksternal, Rupiah Berisiko Kembali ke Rp 18.000 per Dolar AS
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan dan berisiko kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan dan berisiko kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tekanan eksternal yang kuat.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan cenderung volatile seiring penguatan dolar AS yang berlanjut.

“Dalam jangka pendek, rupiah masih akan volatile. Dolar AS diperkirakan masih akan terus menguat di tengah prospek kenaikan suku bunga The Fed dan euforia AI yang mendorong aliran dana ke saham-saham teknologi AS,” ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Cermati Strategi Pengelolaan Portofolio di Tengah Fluktuasi Harga Minyak Global

Ia menjelaskan, dari sisi domestik, kondisi relatif beragam. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dinilai mampu menarik minat investor asing ke instrumen surat berharga negara (SBN), namun di sisi lain memberikan tekanan pada pasar ekuitas.

Hal ini menyebabkan terjadinya peralihan aliran dana asing dari pasar saham ke instrumen obligasi pemerintah.

Untuk jangka panjang, Lukman menilai arah rupiah masih diliputi ketidakpastian, terutama bergantung pada keberlanjutan penguatan dolar AS dan sentimen global seperti tren investasi di sektor teknologi.

“Apabila rally dolar AS dan euforia AI masih bertahan, hal tersebut akan terus membebani rupiah,” tambahnya.

Dari sisi sentimen, kekuatan dolar AS dan pasar ekuitas Amerika Serikat yang masih menarik aliran dana global menjadi faktor utama penekan rupiah.

Meski demikian, terdapat beberapa sentimen positif yang berpotensi menahan pelemahan, seperti penurunan harga minyak dunia serta prospek meredanya konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Harta Djaya Karya (MEJA) Beberkan Perkembangan Rencana Akuisisi Trimata Coal (TCP)

Dalam kondisi tersebut, Lukman melihat mata uang yen Jepang dapat menjadi alternatif bagi investor yang mencari peluang spekulatif.

“Yen sudah berada di level yang berpotensi memicu intervensi. Dalam beberapa kesempatan, intervensi tersebut mampu menguatkan yen secara signifikan hingga sekitar 500 pips,” tutup Lukman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×