Reporter: Alya Fathinah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/6/2026), seiring berlanjutnya penguatan mata uang dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.952 per dolar AS pada hari ini. Melemah 0,52% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.859 per dolar AS.
Pelemahan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. JISDOR turun dari Rp 17.819 per dolar AS menjadi Rp 17.868 per dolar AS, atau melemah 0,28% dalam sehari.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.952 Per Dolar AS Hari Ini (24/6): Asia Tertekan
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS yang masih berlanjut. Indeks dolar AS (DXY) bahkan menyentuh level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.
Mengutip Bloomberg pada pukul 15.50 WIB, indeks dolar AS berada di level 101,56 atau naik 0,15% dibandingkan posisi sehari sebelumnya.
"Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (24/6/2026).
Selain faktor eksternal, rupiah juga mendapat tekanan dari sentimen risk-off di pasar keuangan domestik. Menurut Lukman, pelaku pasar masih mencermati hasil evaluasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia.
"Meskipun, MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market, tetapi masih akan melakukan peninjauan ulang pada November dan tetap membuka peluang downgrade ke Frontier Market," kata Lukman.
Untuk perdagangan Kamis (25/6), Lukman menilai fokus investor akan tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang merupakan indikator inflasi acuan The Fed.
Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan, Ditutup Turun 0,52% ke Rp 17.952 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Ia memperkirakan data tersebut berpotensi menunjukkan kenaikan inflasi, sehingga dapat semakin memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS.
Dengan sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (25/6/2026) berada di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














