Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (30/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,12% secara harian ke Rp 17.346 per dolar AS.
Dalam sepekan, rupiah spot melemah 0,67% dari posisinya di Rp 17.229 per dolar AS pada Jumat (24/4/2026).
Berdarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,31% secara harian ke Rp 17.378 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,57% dari posisinya di level Rp 17.278 per dolar AS pada Jumat (24/4).
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah sepekan ini dipengaruhi sentimen global dan domestik.
Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp 17.300 per Dolar AS, Terhimpit Harga Minyak dan Risiko APBN
Dari global, upaya untuk mengakhiri perang AS-Iran tampaknya terhenti karena jalur penting Selat Hormuz masih tertutup. Sehingga pasokan energi dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah tersebut tidak dapat diakses oleh pembeli global.
Ibrahim bilang bahwa Iran menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz awal pekan ini.
Namun, Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Karena proposal yang ditawarkan Iran tidak membahas program nuklirnya sampai permusuhan berhenti dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan.
Ketidakpuasan Trump terhadap tawaran Iran membuat konflik tersebut buntu dan AS juga tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Selain itu, Ibrahim melihat penggunaan narasi “rupiah undervalued” telah bergeser dari analisis ekonomi menjadi instrumen komunikasi untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga optimisme.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rekor Terlemah di Rp 17.326 Per Dolar AS Hari Ini (29/4)
Namun, narasi tersebut berpotensi menjadi problematis apabila terus diulang tanpa diiringi perbaikan fundamental yang nyata. Sebab, penguatan kepercayaan terhadap mata uang tidak dapat dibangun hanya melalui narasi.
"Langkah tersebut harus didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi secara nyata," kata Ibrahim, Kamis (30/4/2026).
Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX mengatakan, sentimen yang perlu dicermati untuk melihat gerak rupiah ke depan.
Dari sisi global, perhatian tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve, terutama setelah sikap yang cenderung hawkish dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.
Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dan permintaan aset safe haven juga menjadi faktor utama. "Pergerakan imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar turut menjadi indikator penting," ucap Amru.
Dari sisi domestik, Amru bilang bahwa pasar akan mencermati rilis data inflasi, neraca perdagangan, dan cadangan devisa Indonesia pada pekan depan.
Baca Juga: Sentimen Risk Off, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.286 per Dolar AS Hari Ini (23/4)
Selain itu, dinamika aliran modal asing serta kondisi likuiditas global juga akan turut menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Amru memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp17.300 – Rp17.450 per dolar AS.
Tekanan masih berasal dari kuatnya dolar AS secara global, meskipun pelemahan diperkirakan tertahan oleh fundamental domestik yang relatif stabil serta respons kebijakan otoritas.
Sementara Ibrahim memproyeksikan rupiah sepekan ke depan direntang Rp 17.300 - Rp 17.550 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











