kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Harta bertambah Rp 32,76 triliun tahun ini, dari mana sumber harta pemilik Djarum?


Sabtu, 14 Desember 2019 / 11:20 WIB
ILUSTRASI. Robert Budi Hartono, konglomerat Grup Djarum.


Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Khomarul Hidayat

Mengutip Bloomberg, Budi Hartono yang kini berusia 79 tahun dan saudara lelakinya Michael Hartono adalah pemilik bersama Grup Djarum, produsen rokok yang menguasai hampir seperlima dari rokok yang diproduksi di Indonesia.

Mereka juga merupakan pemegang saham terbesar di BBCA. Bank ini memiliki pendapatan Rp 63 triliun atau US$ 4,3 miliar pada tahun 2018 lalu.

Selain BCA, Grup Djarum juga memiliki saham di operator menara telekomunikasi, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR, anggota indeks Kompas100).

Baca Juga: Pantas Tambah Kaya, Harga Saham Para Konglomerat Ini Naik Terus

Sedikit kilas balik, mengutip Bloomberg, Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono mengambil alih bisnis rokok setelah ayah mereka meninggal pada tahun 1963.

Mereka membangun kembali dan memodernisasi Djarum, mendirikan pusat penelitian dan pengembangan untuk menciptakan campuran kretek baru, termasuk cerutu serta varietas rasa ceri.

Djarum mulai mengekspor rokok pada tahun 1972. Saat ini, sekitar 60.000 pekerja di pabrik Djarum di Kudus.

Pada tahun 2002, duo Hartono bermitra dengan Farallon Capital, hedge fund yang berbasis di San Francisco, membeli 51% saham BCA. Saham BCA tersebut dibeli dengan menggunakan perusahaan pendaraan bernama Farindo Investment. Pada 20019, Farallon menjual kepemilikan sahamnya di BCA ke duo Hartono.

Baca Juga: BCA caplok Rabobank Rp 397 miliar

Hartono bersaudara juga berekspansi ke properti dan pada 2004 memenangkan hak untuk membangun kembali Hotel Indonesia dan Hotel Wisata, yang berlokasi di kompleks pusat Jakarta yang sama. Mereka mengubah properti menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel dan apartemen mewah, dan menyebutnya Grand Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×