kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Tembaga jangka pendek diselimuti sentimen negatif


Rabu, 22 Maret 2017 / 19:24 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Harga tembaga kembali pudar seiring dengan meredanya kekhawatiran produksi. Ancaman banjir pasokan disertai turunnya permintaan kini siap menghadang laju tembaga.

Mengutip Bloomberg, Rabu (22/3) pukul 10.32 waktu Shanghai, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melemah 0,6% ke level US$ 5.740 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Sedangkan dalam sepekan terakhir, tembaga tergerus 2,1%.

Harga tembaga sudah melemah dalam tiga hari beruntun. Pada Selasa (21/3) tembaga bahkan jatuh hingga 1,8%.

Andri Hardianto, Analis PT Asia Tradepoint Futures mengatakan, ada tiga faktor yang membuat harga tembaga tertekan. Pertama, tambang Freeport McMoran di Grasberg, Papua telah kembali melakukan produksi tembaga setelah sempat dilarang selama sebulan.

Freeport kembali mendapat izin untuk mengekspor konsentrat tembaga sehingga dikhawatirkan semakin menambah pasokan global.

Kedua, masalah mogok kerja yang mengganggu produksi tambang tembaga BHP Billiton Ltd di Escondida, Chili mulai mendapat titik terang. Perwakilan pekerja bersedia bertemu dengan perusahaan pada pekan ini untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dengan demikian, terbuka peluang produksi tembaga dari tambang Escondida kembali naik. Lalu yang ketiga yakni adanya tambahan produksi dari tambang tembaga di Peru. Produksi tembaga Peru tercatat naik 24,8% di bulan Januari lalu dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Kekhawatiran produksi baik di Indonesia, Chili maupun Peru disertai dengan harapan kenaikan permintaan China dan Amerika Serikat (AS) menjadi pendorong laju harga tembaga hingga ke level tertinggi sejak 2015 pada bulan Februari lalu lalu. "Tetapi untuk sekarang, pergerakan tembaga dalam jangka pendek masih akan diselimuti sentimen negatif," kata Andri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×