Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas diperkirakan masih akan tertekan pada sepekan depan lantaran sentimen global yang membayangi. Bahkan, harga emas logam mulia Antam berpotensi turun hingga ke bawah level Rp 2,80 juta per gram dalam jangka pendek.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan emas saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak dunia, hingga eskalasi konflik geopolitik.
Harga emas dunia pada perdagangan terakhir dicatat ditutup di level US$ 4.671 per ons troi. Sementara harga logam mulia Antam berada di kisaran Rp 2.857.000 per gram.
Dalam jangka pendek, apabila terjadi koreksi, harga emas diperkirakan menguji level support pertama di US$ 4.543 per troy ounce atau setara Rp 2.827.000 per gram.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Emas Antam Diproyeksi Naik Jadi Rp 3 Juta Per Gram Pekan Depan
Jika tekanan berlanjut, harga emas berpotensi turun ke level support berikutnya di US$ 4.358 per ons troi, dengan harga logam mulia Antam diproyeksikan menyentuh Rp 2.780.000 per gram. Dengan demikian, dalam sepekan ke depan, harga logam mulia berpeluang bergerak di bawah Rp 2.800.000 per gram.
“Untuk satu pekan sampai hari Sabtu kemungkinan besar dalam minggu depan kalau seandainya terjadi koreksi terhadap harga emas, kemungkinan di bawah 2.800.000 ya,” ujar Ibrahim, Minggu (2/4/2026).
Namun, apabila harga emas berbalik menguat, level resistance pertama berada di US$ 4.878 per ons troi dengan proyeksi harga logam mulia sekitar Rp 2.890.000 per gram. Selanjutnya, jika penguatan berlanjut, emas berpotensi menguji resistance kedua di level US$ 5.080 per ons troi.
Dari sisi sentimen, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Dalam sepekan ke depan, dolar diperkirakan bergerak di kisaran 98 hingga mendekati 102. Kuatnya dolar membuat emas kurang menarik karena dibanderol dalam mata uang tersebut.
Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) juga menjadi tekanan tambahan. Data ekonomi AS yang masih solid, terutama dari sisi ketenagakerjaan, membuka peluang bagi bank sentral AS untuk menahan suku bunga di level tinggi, sehingga menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah turut memperbesar risiko inflasi global. Kondisi ini mendorong bank sentral untuk tetap berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter, yang kembali menjadi sentimen negatif bagi emas.
Baca Juga: Harga Emas Antam Tak Bergerak, Bertahan di Level Rp 2.857.000 per Gram, Sabtu (4/4)
Dari faktor geopolitik, meningkatnya tensi di Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina turut memicu volatilitas pasar global. Meski biasanya kondisi ini mendukung permintaan aset safe haven seperti emas, dalam jangka pendek tekanan likuiditas justru membuat investor cenderung memilih dolar AS.
Selain itu, kebutuhan likuiditas pelaku pasar juga menjadi faktor yang menekan harga emas. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor cenderung melakukan aksi jual pada aset yang sebelumnya mencatatkan keuntungan, termasuk emas, untuk menutup kerugian di instrumen lain.
Meski demikian, Ibrahim melihat peluang kenaikan tetap terbuka apabila ketidakpastian global semakin meningkat.
Dalam skenario tersebut, harga emas berpotensi menguji level resistance di US$ 4.878 hingga US$ 5.080 per troi ons, dengan harga logam mulia domestik berpeluang naik ke kisaran Rp 2,89 juta hingga Rp 3 juta per gram.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan harga emas dalam waktu dekat diperkirakan masih volatil. Investor pun disarankan untuk mencermati arah dolar AS, kebijakan suku bunga global, serta perkembangan geopolitik sebelum mengambil keputusan investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













