Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek harga minyak mentah dalam jangka pendek berpotensi mengalami tren rebound terbatas akibat ketidakpastian geopolitik global yang dipicu oleh konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengacu pada data Trading Economics per Senin (20/7/2026) pukul 14:34 WIB, harga minyak mentah jenis Crude Oil menguat 1,14% dalam sehari dan naik 7,12% dalam sepekan ke level US$ 83,693 per barel, sementara jenis Brent menguat 1,29% dalam sehari dan naik 7,62% dalam sepekan ke level US$ 89,621 per barel.
Lonjakan harga komoditas energi di awal pekan ini sekaligus merefleksikan tingginya kekhawatiran pasar terhadap ancaman nyata terhambatnya rantai pasokan global fisik melalui Selat Hormuz.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa eskalasi serangan AS terhadap fasilitas energi Iran di jalur krusial perdagangan dunia tersebut menjadi katalis pendorong utama sentimen beli saat ini.
Baca Juga: AS–Iran Saling Serang, Harga Minyak Mentah Melonjak 4% Tembus US$ 74 per Barel
Situasi kian tegang setelah militer AS melancarkan serangan malam kesembilan berturut-turut, di tengah langkah blokade laut pelabuhan Iran serta laporan UKMTO terkait insiden kapal terbakar di barat laut Kumzar, Oman.
Kenaikan harga minyak yang tajam dan berkelanjutan ini membawa risiko nyata bagi stabilitas harga global karena energi merupakan komponen biaya utama.
"Jika inflasi kembali merangkak naik akibat harga energi, bank sentral mungkin akan menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan mempertahankan suku bunga di level yang tinggi (high for longer) lebih lama dari ekspektasi pasar sebelumnya untuk mendinginkan ekspektasi inflasi, meskipun langkah tersebut berisiko memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global," ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (20/7/2026).
Di sisi lain, optimisme normalisasi ekspor Iran pasca kesepakatan damai tetap menjadi faktor penekan teknis yang membayangi dinamika makroekonomi dan cadangan stok minyak AS.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik, Ekonom: Tekanan ICP ke APBN Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun
Pergerakan harga hingga akhir tahun dinilai akan sangat bergantung pada durasi konflik regional serta respons permintaan global dari Tiongkok dan kebijakan produksi OPEC+.
Menurut Wahyu, menatap sisa tahun ini, pasar dihadapkan pada variasi estimasi dari level US$ 100 per barel, target medium Goldman Sachs sebesar US$ 80 per barel pada kuartal IV, hingga estimasi bawah di kisaran US$ 70 per barel jika deeskalasi terwujud.
Secara teknikal, per Juli 2026, apabila harga WTI mengalami koreksi, level support utama yang diawasi berada di kisaran US$ 78,42 hingga area terdalam US$ 66,60/66,10.
Sementara untuk kelanjutan tren naik, harga WTI perlu menembus batas resistance terdekat di US$ 80,53 hingga level psikologis berikutnya di US$ 99,69.
Baca Juga: Dinamika Eskalasi AS – Iran, Ada Potensi Harga Minyak Mentah Kembali Naik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
