kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.488.000   -13.000   -0,52%
  • USD/IDR 16.707   7,00   0,04%
  • IDX 8.647   2,68   0,03%
  • KOMPAS100 1.194   -2,61   -0,22%
  • LQ45 847   -5,47   -0,64%
  • ISSI 309   -0,04   -0,01%
  • IDX30 437   -2,15   -0,49%
  • IDXHIDIV20 510   -4,16   -0,81%
  • IDX80 133   -0,62   -0,47%
  • IDXV30 139   0,36   0,26%
  • IDXQ30 140   -0,77   -0,54%

Susun Ulang Portofolio Saham 2026, Ini Strategi dan Porsi Ideal Menurut Analis


Kamis, 01 Januari 2026 / 21:01 WIB
Susun Ulang Portofolio Saham 2026, Ini Strategi dan Porsi Ideal Menurut Analis
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

Praktisi pasar modal sekaligus Pendiri Warkop Saham Raden Bagus Bima menambahkan, ada tiga strategi utama yang perlu dipegang investor saham pada 2026.

Pertama, melakukan diversifikasi lintas sektor antara saham defensif, siklikal, dan saham berorientasi pertumbuhan (growth).

Kedua, mengombinasikan saham berfundamental kuat dengan saham yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Ketiga, melakukan rebalancing portofolio secara berkala sesuai perubahan kondisi pasar.

Berdasarkan pendekatan tersebut, Raden menyarankan porsi saham sekitar 20%–30% untuk investor konservatif, 40%–60% bagi investor moderat, dan 70%–80% untuk investor agresif.

Ia menilai sektor perbankan atau keuangan masih menjadi unggulan pada 2026, seiring tren penurunan suku bunga acuan The Fed dan stabilitas likuiditas domestik.

“Bank-bank besar dengan kualitas aset yang baik dan rasio CASA yang kuat masih menarik dari sisi valuasi,” ujar Raden.

Baca Juga: Pengendali Black Diamond (COAL) Jual 70,07 Juta Saham, Apa Tujuannya?

Selain perbankan, sektor energi dan komoditas juga patut dipertimbangkan, terutama bagi emiten dengan biaya produksi rendah dan diversifikasi bisnis yang solid.

Saham-saham konsumer dinilai tetap relevan sebagai penopang portofolio di tengah potensi volatilitas pasar karena karakter pendapatannya yang relatif stabil.

Tak ketinggalan, sektor infrastruktur dan utilitas turut menjadi sorotan berkat dukungan belanja pemerintah serta keberlanjutan proyek strategis nasional yang memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati fundamental emiten, sensitivitas terhadap perubahan suku bunga dan harga komoditas, serta memperhatikan valuasi dan likuiditas saham guna menjaga fleksibilitas rebalancing portofolio.

Baca Juga: IDX Sector Healthcare Melonjak 43,78% Sepanjang 2025, Begini Prospeknya Tahun Ini

Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menambahkan, awal tahun dapat dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan rebalancing portofolio.

Pasalnya, masih terdapat sejumlah saham yang terkoreksi harganya, namun memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang positif.

“Tidak masalah masuk ke saham, asalkan likuiditas tetap dijaga, terutama untuk kebutuhan dan kewajiban jangka pendek,” jelas Eko.

Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi tekanan inflasi ke depan, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio.

Keseimbangan antara kebutuhan likuiditas dan tujuan investasi jangka panjang menjadi kunci agar investor tidak terjebak risiko finansial yang berlebihan.

Selanjutnya: Siklon Tropis Iggy di Selatan Jawa, Hujan Lebat Turun di Provinsi Ini

Menarik Dibaca: Siklon Tropis Iggy di Selatan Jawa, Hujan Lebat Turun di Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×