Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto
Pergerakan Pasar Modal dan Instrumen Lain
Sementara itu, kinerja pasar modal dan aset investasi lain bergerak berbeda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat return -1,1% MoM, sedangkan obligasi pemerintah dan korporasi naik masing-masing 0,44% dan 0,5% MoM.
Berbanding terbalik, aset kripto masih tertekan, dengan Bitcoin turun 19,8% MoM dan Ethereum terkoreksi 24,5% MoM.
Menurut Eko, pergerakan bervariasi ini dipengaruhi kombinasi faktor makro dan mikro ekonomi yang belum kondusif.
“Kondisi makro global yang tidak pasti dan situasi mikro domestik yang menantang menjadi pemicu kinerja investasi yang tidak maksimal,” jelasnya.
Co-founder Cryptowatch Christopher Tahir menambahkan bahwa tren bearish di kripto kemungkinan akan berlanjut hingga paruh kedua tahun ini.
Namun, investor tetap bisa mempertimbangkan kripto sebagai aset diversifikasi ketika harganya sedang terkoreksi.
Baca Juga: Kinerja LPKR Turun Saat Lippo Cikarang (LPCK) Pulih, Ini Rekomendasi Sahamnya
Strategi Portofolio 2026
Eko menilai, tekanan geopolitik dan potensi suku bunga tinggi membuat investor cenderung meningkatkan porsi aset likuid.
Deposito masih menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian, sementara reksa dana campuran dapat mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga yang menekan harga obligasi.
Untuk alokasi portofolio:
- Investor konservatif: 40% cash/deposito, 40% emas, 20% saham blue chip
- Investor moderat: 40% cash/deposito, 30% emas, 30% saham blue chip
- Investor agresif: 20% cash/deposito, 30% emas, 50% kombinasi saham dan kripto
Menurut Eko, fokus portofolio saat ini sebaiknya diarahkan pada aset likuid dan safe haven, mengingat eskalasi konflik geopolitik dan ketidakpastian suku bunga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













