kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Soal integrasi saham dan e-commerce, ini tanggapan Bukalapak dan perusahaan efek


Senin, 28 Januari 2019 / 20:46 WIB

Soal integrasi saham dan e-commerce, ini tanggapan Bukalapak dan perusahaan efek

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu menyebut transaksi jual beli saham punya kemungkinan bisa ditransaksikan melalui platform e-commerce layaknya reksadana. Hal tersebut bisa terwujud lantaran pembukaan rekening efek nantinya bisa dilakukan tanpa perlu bertatap muka atau online dalam waktu kurang dari satu jam saja.

Berdasarkan catatan Kontan.co.id, Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Resiko BEI Fithri Hadi mengatakan besarnya jumlah pengguna e-commerce yang diklaim mencapai 60 juta orang punya potensi besar untuk menambah jumlah investor saham di yang kini jumlahnya berkisar di angka 850.000 orang saja di seluruh Indonesia


Salah satu raksasa e-commerce tanah air, Bukalapak akhirnya merespons keinginan BEI untuk mengintegrasikan potensi tersebut. Head of Payment and Financial Services Bukalapak Destya Danang Pradityo mengatakan secara sistem integrasi bursa saham dengan Bukalapak sangat memungkinkan untuk dilakukan. 

Pasalnya saat ini Bukalapak juga sudah melakukan integrasi dengan pasar modal untuk transaksi jual beli reksadana melalui BukaReksa. Selain itu, e-commerce yang didirikan pada tahun 2010 ini sebelumnya juga telah memperjualbelikan instrumen investasi berupa emas lewat BukaEmas.

“Namun untuk mewujudkan hal ini perlu dukungan dari semua stakeholder yang terkait salah satunya adalah regulator. Karena bagaimanapun industri layanan keuangan harus tunduk dan patuh pada peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” kata dia ketika dihubungi oleh Kontan.co.id Senin (28/1).

Sementara Co- Founder & President Bukalapak M Fajrin Rasyid mengatakan, terkait jual beli saham perlu beberapa peraturan yang harus dikaji ulang terlebih dahulu. Fajrin menyebut, pihaknya terlebih dahulu menggarap reksadana karena secara regulasi lebih mudah misalnya tidak harus memiliki rekening dana nasabah (RDN).

“Saham agak lebih ribet seperti harus punya RDN dan lain-lainnya. Kami ingin jika buka saham ya harus sederhana. Bila regulasinya sudah oke, maka secara teknis kami bisa-bisa saja. Apakah namanya BukaSaham? Itu belum bisa kami pastikan saat ini," kata Fajrin.

Lalu bagaimana tanggapan dari perusahaan efek terkait integrasi bursa saham dan e-commerce yang diutarakan oleh BEI? Managing Director Mandiri Sekuritas Heru Handayanto mengatakan pengintegrasian tersebut merupakan hal yang sangat positif untuk menambah basis investor pasar modal di Indonesia.

“Minat masyarakat untuk berinvestasi di bursa saham akan meningkat lantaran adanya kemudahan dalam melakukan transaksi saham menggunakan platform e-commerce,” kata dia kepada Kontan.co.id.

Sementara itu, Direktur Trimegah Sekuritas Syafriandi Armand Saleh enggan memberikan komentar terkait dengan keinginan BEI mengintegrasikan bursa saham dengan e-commerce. Dia bilang, BEI belum memberikan informasi apapun berkaitan dengan hal tersebut, termasuk bagaimana persiapan dan pelaksanaannya secara teknis. 

“Nanti saja, ketika BEI sudah memberikan grand design-nya seperti apa,” tegas dia.

Sementara Vice President Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih menilai keinginan BEI untuk mengintegrasikan bursa saham dengan e-commerce seharusnya dipertimbangkan kembali. Dia bilang seharusnya BEI bisa memperkuat fasilitas online trading yang sudah dipunyai oleh banyak sekuritas.

"Selain itu, transaksi saham adalah transaksi yang penuh dengan aturan ketat sehingga harus diatur dan dilakukan oleh profesional yang punya lisensi, juga ada faktor pengawasan terhadap etika di sini, serta rawan manipulasi," ungkap dia.

Lebih lanjut Alfatih mengatakan Samuel Sekuritas mendukung langkah BEI mempermudah masyarakat mengakses pasar modal terutama bursa saham asalkan tetap menjaga faktor keamanan dan kehati-hatian.


Reporter: Rezha Hadyan
Editor: Tendi

Video Pilihan


Close [X]
×