Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada di bawah tekanan sentimen eksternal pada perdagangan Kamis (30/7) akibat keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) dan geopolitik global.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (29/7), rupiah di pasar spot menguat tipis 0,06% ke level Rp 18.073 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang Garuda di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatatkan posisi Rp 18.087 per dolar AS, serta di Trading Economics berada pada level Rp 18.059,7 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Rawan Lanjut Koreksi, MNC Sekuritas Beberkan Penyebab dan Saham Pilihan
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menilai pelemahan rupiah pada perdagangan Rabu didominasi oleh penguatan dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Pasar bahkan mulai membuka peluang kenaikan suku bunga acuan apabila tekanan inflasi global kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.
Selain itu, eskalasi konflik AS-Iran yang kembali memanas membuat harga minyak bertahan di level tinggi sehingga memperkuat permintaan dolar AS sebagai petrodollar.
Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi impor (imported inflation) bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia. Kombinasi faktor tersebut menjadi tekanan utama yang menahan penguatan mata uang Garuda.
Untuk perdagangan Kamis (30/7), Brahmantya mengamati pergerakan rupiah bakal sangat dipengaruhi oleh dinamika konflik AS-Iran dan situasi lalu lintas energi di Selat Hormuz.
Arah pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) serta rilis data ekonomi AS terkait inflasi dan pasar tenaga kerja juga menjadi fokus utama investor.
"Selama harga minyak masih tinggi dan pasar memperkirakan The Fed tetap hawkish, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan mereda," kata Brahmantya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).
Ia menegaskan tantangan terbesar rupiah saat ini bukan hanya berasal dari indeks dolar AS, melainkan juga dari meningkatnya kebutuhan valas untuk transaksi energi global.
Respons Bank Indonesia melalui intervensi pasar valas dan kebijakan stabilisasi nilai tukar sangat dinantikan untuk menahan pelemahan lebih lanjut.
Mempertimbangkan jajaran sentimen tersebut, Brahmantya memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan esok hari.
"Saya memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000–Rp 18.150 per dolar AS," ujar Brahmantya.
Jika sentimen global masih didominasi penguatan dolar AS dan harga minyak tetap tinggi, rupiah berpotensi kembali menguji area resistensi di level Rp 18.200–Rp 18.300 per dolar AS.
Namun, apabila dolar AS mulai terkoreksi atau muncul sentimen positif dari pasar global, rupiah berpeluang kembali menguat ke area support Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways pada Kamis (30/7), Ini Kata Analis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














