kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kredit diprediksi tumbuh 11%, berikut prospek saham perbankan di tahun ini


Senin, 20 Januari 2020 / 07:55 WIB
Kredit diprediksi tumbuh 11%, berikut prospek saham perbankan di tahun ini
ILUSTRASI. Nasabah menggunakan fasilitas mesin ATM untuk transaksi perbankan di Jakarta, Selasa (16/5). Penyaluran kredit di tahun 2020 diprediksi lebih tinggi. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/16/05/2017

Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan bisa mencapai 11% pada tahun ini. Dalam catatan Kontan, laju penyaluran kredit perbankan tahun 2019 hanya tumbuh 6,08%.

Pertumbuhan kredit pada 2019 menyusut hampir separuh dari angka pertumbuhan tahun sebelumnya. Pada tahun 2018, penyaluran kredit industri perbankan masih tumbuh sebesar 11,7%.

Baca Juga: Selamat tinggal tren marjin bunga tinggi 

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai OJK optimistis dalam membidik target pertumbuhan hingga 11%. Ia memprediksi perbankan dengan modal yang kuat bisa mencapai target pertumbuhan kredit tersebut, bahkan beberapa bank kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV bisa melebihi pertumbuhan kredit sebesar 11%, misalnya saja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Pada tahun lalu, BBRI juga disebut masih tumbuh di atas industri, sebelumnya BBRI membidik pertumbuhan penyaluran kredit tumbuh 10% hingga 11% pada 2019.

Menurut Wawan,  perbankan yang tidak termasuk dalam BUKU IV  cukup berat untuk mencapai target pertumbuhan kredit tersebut. “Bank BUKU III mungkin masih bisa. Untuk Bank BUKU I dan II berat untuk mencapai target tersebut, sampai Oktober Non Performing Loan (NPL) pada naik semua,” katanya, Jumat (17/1).

Meski begitu, ia mengatakan prospek perbankan pada tahun ini bakal diwarnai beberapa sentimen positif, seperti adanya potensi pemangkasan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Baca Juga: IHSG diproyeksikan masih melanjutkan penguatan Senin (20/1)

Hal senada juga disampaikan oleh Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta. Nafan menuturkan, Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 hingga 50 basis poin (bps) pada tahun 2020.

Dengan begitu, sambungnya, ada harapan tingkat likuiditas perbankan bisa semakin meningkat. Pasalnya sampai saat ini ketatnya likuiditas masih menjadi tantangan bagi perbankan. “Sehingga ini bisa menjadi stimulus untuk pertumbuhan kredit,” katanya.

Guna meningkatkan kinerja, Nafan bilang selain dilihat dari kemampuan perbankan dalam meningkatkan likuiditas, perbankan juga bisa menerapkan komitmen untuk transformasi digital.

Transformasi digital merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan perbankan untuk memperoleh laba lantaran bisa memangkas biaya dan juga memenuhi tuntutan masyarakat yang menghendaki proses transaksi perbankan mudah, cepat, dan efisien.

Bagi investor yang ingin mengoleksi saham perbankan, Nafan menyarankan untuk akumulasi beli saham BBNI dengan estimasi target harga jangka panjang di level Rp 9325. Kemudian ia juga menyarankan investor untuk akumulasi beli BBRI dengan target harga jangka pendek maupun panjang secara bertahap di level 4520 dan 5125.

Baca Juga: IHSG diperkirakan cenderung melemah di minggu depan, ini alasannya

Ia menyebutkan, berdasar laporan keuangan kuartal III 2019 BBRI berhasil memperoleh kenaikan laba bersih sebesar 5,58% menjadi 7,2 triliun. Selain itu BBRI juga berkomitmen untuk mendorong ekonomi kerakyatan melalui usaha mikro dengan menghadirkan aplikasi BRISPOT.

Sementara itu, BBNI juga mencatat NPL membaik 1,8% pada kuartal III tahun lalu. Pada tahun ini ia memprediksi NPL gross BNI turun menjadi 1,85%.

Sedangkan, Wawan Ia merekomendasikan investor untuk buy saham BBCA dengan target harga Rp 36.000 per lembar saham untuk jangka waktu tiga bulan ke depan. Selain BBCA, saham perbankan yang masuk dalam BUKU IV juga masih menarik untuk dikoleksi.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×