kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG diperkirakan cenderung melemah di minggu depan, ini alasannya


Minggu, 19 Januari 2020 / 15:49 WIB
IHSG diperkirakan cenderung melemah di minggu depan, ini alasannya
ILUSTRASI. Pekerja melintas di dekat layar pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (27/12/2019). IHSG diperkirakan cenderung melemah di minggu depan disebabkan karena sejumlah faktor. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/aww.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) akan kembali mengumumkan kebijakannya pada pertengahan pekan ini. Beberapa analis memprediksi BI akan mempertahankan suku bunganya di level 5%. 

"Berdasarkan kondisi makro dalam negeri dan juga perkembangan ekonomi di Amerika Serikat (AS) terkait proyeksi The Fed maka saya prediksi suku bunga masih dipertahankan," jelas Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, Jumat (16/1). 

Baca Juga: Analis ini melihat IHSG berpeluang konsolidasi melemah pekan depan

Hal ini juga sejalan dengan ekspektasi pasar, lantaran belum ada katalis kuat yang membuat suku bunga perlu diturunkan. Apalagi saat ini rupiah cenderung menguat bila dibandingkan dengan Dollar AS. 

Saat ini pun, Wawan mengatakan IHSG sudah bergerak dengan ekspektasi suku bunga tetap. Bila terjadi penurunan, bisa membuat saham terkait keuangan kembali diburu. Dus, investor tetap disarankan fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar terutama perbankan. 

Analis Artha Sekuritas Nugroho Rahmat Fitriyanto juga memproyeksikan BI akan menahan suku bunga, karena belum ada urgensi untuk kembali menurunkan. "Kurs kita saat ini masih dalam tren penguatan dan hal ini saya lihat baik untuk perekonomian di mana potensi defisit neraca perdagangan akan semakin mengecil," jelas Nugroho. 

Proyeksi penahanan suku bunga tersebut juga didukung oleh kondisi ekspor yang meningkat karena terdorong harga crude palm oil (CPO). Adapun nilai ekspor Desember 2019 sebesar US$ 14,47 miliar atau naik 3,77% bila dibanding November 2019. 

Baca Juga: AS-China capai kesepakatan dagang, sampai kapan investor asing net buy?

Jumlah tersebut juga menunjukkan peningkatan 1,28% secara tahunan (yoy) dimana nilai ekspor non-migas tumbuh 5,78% secara tahunan dari US$ 12,58 miliar menjadi US$ 13,31 miliar. 

Sepanjang 2019, defisit neraca dagang juga tercatat turun dari US$ 8,70 miliar menjadi US$ 3,2 miliar. "Jadi saya lihat BI akan cenderung menahan suku bunga, market juga berekspektasi demikian," jelas dia. 




TERBARU

Close [X]
×