Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Insiden peretasan bursa kripto terbesar dunia Binance pada akhir Oktober 2026, kembali menekan pasar aset digital. Kekhawatiran investor terhadap keamanan platform perdagangan turut membayangi pergerakan harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).
Berdasarkan data CoinMarketCap, Selasa (3/11/2026) pukul 17:23 WIB sore, harga Bitcoin berada di kisaran US$ 76.964, melemah 1,2% dalam 24 jam terakhir dan 3,25% dalam sepekan. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan di kisaran US$ 2.263, turun 0,96% dalam 24 jam dan 1,56% dalam sepekan.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan, insiden keamanan pada platform perdagangan kripto berpotensi memengaruhi sentimen investor, terutama terkait kepercayaan terhadap keamanan platform dan perlindungan aset pengguna.
"Insiden keamanan pada platform perdagangan aset kripto di luar negeri berpotensi memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek, terutama terkait kepercayaan terhadap keamanan platform dan perlindungan aset pengguna," ujar Ryan dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Investor Waspadai Risiko Struktural, CDS Indonesia Masih Dibayangi Tekanan
Pembobolan Binance mengakibatkan pencurian aset kripto senilai sekitar US$ 6,3 miliar. Sekitar US$ 3 miliar aset dilaporkan berhasil dibekukan melalui koordinasi dengan penerbit stablecoin dan mitra industri blockchain.
Dampak insiden tersebut juga terlihat dari arus penarikan dana. Reuters melaporkan, hingga 2 November 2026, penarikan dana pelanggan dari platform terdampak mencapai US$ 3,64 miliar atau sekitar 2,1% dari total asetnya. Meski demikian, laju penarikan mulai stabil dan belum mengindikasikan kepanikan yang meluas.
Di luar sentimen keamanan, pergerakan Bitcoin dan Ethereum juga dipengaruhi kondisi makroekonomi global, arah suku bunga, likuiditas, serta aktivitas perdagangan. Pada pasar derivatif, peningkatan volatilitas bahkan berpotensi memicu likuidasi posisi dengan leverage sehingga memperbesar tekanan harga dalam waktu singkat.
Ryan mengingatkan, investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor tersebut sebelum mengambil keputusan investasi. Menurut dia, insiden keamanan pada satu platform tidak serta-merta mencerminkan kondisi keamanan seluruh industri kripto.
"Pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya tidak hanya ditentukan oleh satu peristiwa, tetapi juga kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, likuiditas pasar, dan aktivitas perdagangan. Karena itu, investor perlu tetap tenang, mencermati perkembangan pasar, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin," jelasnya.
Memasuki akhir 2026, prospek pasar kripto masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter, regulasi, dan tingkat adopsi aset digital. Data ekonomi Amerika Serikat serta ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor yang turut menentukan selera risiko investor.
Di sisi lain, adopsi institusional dan inovasi teknologi blockchain berpotensi menopang pertumbuhan industri dalam jangka panjang. Bittime pun menyatakan terus memperkuat keamanan siber, ketahanan infrastruktur, dan perlindungan aset pelanggan melalui pengembangan ekosistem perdagangan spot, staking, dan futures.
Baca Juga: Kredibilitas Kebijakan Domestik Jadi Sorotan di Tengah Kenaikan CDS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













