Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menghadapi tekanan berat yang melanda industri semen nasional. Hal ini tercermin dari capaian kinerja emiten tersebut sepanjang 2025.
Mengutip materi paparan publik, pendapatan neto INTP terkoreksi 4,4% year on year (yoy) menjadi Rp 17,73 triliun pada 2025, sejalan dengan kinerja penjualan semen domestik yang terkontraksi 2,2% secara tahunan.
Volume penjualan semen INTP di pasar domestik juga berkurang 3,9% yoy menjadi 19,39 juta ton pada 2025. Di sisi lain, volume penjualan semen di pasar ekspor meningkat 73,9% yoy menjadi 551.000 ton.
Baca Juga: Menanti Data Penjualan Ritel AS, Begini Proyeksi Rupiah Besok (2/4)
INTP mempertahankan pangsa pasar di level 29,1% pada 2025, yang mana pangsa pasar perusahaan di Jawa berada di level 35,8% sedangkan luar Jawa di level 22%.
Kendati demikian, INTP masih mampu membukukan kenaikan laba bersih tahun berjalan 12% yoy menjadi Rp 2,25 triliun pada 2025. EBITDA INTP juga tumbuh 8,5% yoy menjadi Rp 4,27 triliun.
Direktur Utama INTP Christian Kartawijaya mengatakan, kenaikan laba bersih INTP cukup dipengaruhi oleh divestasi 60% kepemilikan saham INTP dan anak usaha PT Pionirbeton Industri (PBI) pada PT Mortar Prakarsa Utama (MPU).
Dalam laporan keuangan, INTP memperoleh keuntungan atas divestasi dan pengukuran kembali investasi pada entitas asosiasi Rp 669,98 miliar pada 2025.
Di samping itu, Christian mengakui kombinasi daya beli yang lemah dan kondisi industri semen yang mengalami kelebihan kapasitas membuat INTP kesulitan mencetak pertumbuhan pendapatan yang positif. Kondisi kelebihan kapasitas ini tercermin dari tingkat utilisasi pabrik semen di Indonesia yang hanya berada di level 52% pada akhir 2025.
Terkait peluang pada 2026, Christian menyebut INTP mengacu pada proyeksi pertumbuhan industri semen nasional yakni sekitar 1%. "Kami pertumbuhan penjualan perusahaan akan sejalan dengan pertumbuhan industri secara nasional," kata dia dalam paparan publik, Rabu (1/4/2026).
INTP melihat adanya permintaan semen yang berasal dari proyek infrastruktur, salah satunya adalah proyek perpanjangan jalur MRT Jakarta yang mana perusahaan ini sudah didekati pemilik proyek untuk memasok semen. Selain itu, proyek seperti Giant Seawall dan jalan tol juga menjadi peluang penjualan semen bagi INTP.
Walau begitu, INTP tak menampik fakta bahwa tantangan yang dihadapi oleh emiten tersebut pada 2025 akan kembali terulang pada 2026. Bahkan, tantangan bagi INTP makin bertambah seiring kenaikan harga minyak mentah dunia dan pelemahan kurs rupiah.
Baca Juga: Fitch Naikkan Asumsi Harga Komoditas, Analis Soroti Peluang Emas dan Tembaga
Christian pun mengungkap, harga BBM industri sudah naik sekitar 30% sampai 65% dalam beberapa waktu terakhir. Padahal, sekitar 40%-50% biaya produksi INTP disumbangkan oleh komponen biaya energi.
"Pelemahan kurs ini juga cukup terasa bagi kami, karena sebagian besar cost perusahaan dalam bentuk dolar AS," imbuh dia.
Untuk menjaga margin, INTP sudah mulai menerapkan kebijakan penyesuaian harga semen di beberapa tempat sekitar 2%-3% sejak Maret 2026 lalu. Christian menegaskan, kebijakan ini dilakukan secara bertahap dengan harapan INTP tidak kehilangan pangsa pasar secara drastis.
Selain menyesuaikan harga, INTP tentu akan lebih memaksimalkan keunggulan rantai distribusi yang dimiliki emiten tersebut. Berkat akuisisi Pabrik Semen Grobogan di Jawa Tengah, INTP bisa memangkas biaya logistik untuk distribusi semen di provinsi tersebut.
INTP juga memiliki pabrik penggilingan semen di Banyuwangi yang bisa memudahkan penyaluran semen di Jawa Timur hingga Bali. Tak hanya itu, INTP juga telah menyewa fasilitas produksi di pabrik semen Bosowa di Maros, Sulawesi yang memudahkan distribusi semen perusahaan di kawasan Indonesia Timur.
"Tersebarnya fasilitas produksi dan terminal ini mampu menjaga profitabilitas perusahaan di tengah tantangan industri semen," terang dia.
Tak hanya itu, INTP juga makin gencar menggunakan bahan bakar alternatif, salah satunya adalah refused-derived fuel (RDF) yang bahan bakunya berasal dari limbah sampah. Hingga 2025, porsi konsumsi bahan bakar alternatif INTP berada di level 29% dan ditargetkan meningkat menjadi 42% pada 2030 mendatang.
Baca Juga: Dolar AS Terbatas, Mata Uang Asia Cenderung Menguat Didukung Sentimen Positif
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, peluang pertumbuhan positif kinerja INTP cukup terbuka pada 2026, namun cenderung terbatas yakni kemungkinan single digit dari sisi bottom line. Maklum, kondisi pasar semen nasional belum stabil, ditambah INTP juga terdampak oleh kenaikan harga komoditas energi dan volatilitas kurs.
Sebagai salah satu pemain besar di sektor semen, keunggulan utama INTP adalah keberadaan fasilitas produksi dan distribusi yang terintegrasi. Contohnya adalah Pabrik Semen Grobogan yang membuat penyaluran semen INTP menjadi jauh lebih efisien.
"Kini suplai semen untuk area Jawa Tengah tidak perlu didatangkan jauh dari Jawa Barat," imbuh Nafan, Rabu (1/4/2026).
INTP juga memiliki modal berharga yakni basis pelanggan yang loyal terhadap merek Semen Tiga Roda. Hal ini akan mengurangi risiko berkurangnya volume penjualan ketika INTP menerapkan kebijakan penyesuaian harga.
Nafan menyarankan investor untuk wait and see saham INTP. Harga saham emiten ini sempat turun dan berada dalam kondisi jenuh jual (oversold), kemudian terjadi rebound teknikal.
Di lain pihak, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan trading buy saham INTP dengan target harga di kisaran Rp 5.775-Rp 6.125 per saham.
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,92% ke 7.184, Top Gainers LQ45: BUMI, NCKL dan INCO, Rabu (1/4)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













