kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Sektor Energi Masih Jadi Primadona, Intip Saham Pilihan Analis


Kamis, 03 September 2026 / 19:13 WIB
Sektor Energi Masih Jadi Primadona, Intip Saham Pilihan Analis
ILUSTRASI. Bongkar muat batubara. Penguatan indeks sektor energi mulai ditopang kombinasi perbaikan fundamental emiten, pemulihan produksi, serta ekspektasi earnings recovery. (KONTAN/Achmad Fauzie)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor energi masih menjadi salah satu motor penggerak pasar saham Indonesia.

Penguatan indeks sektor energi mulai ditopang kombinasi perbaikan fundamental emiten, pemulihan produksi, serta ekspektasi earnings recovery pada paruh kedua 2026.

Pada perdagangan Kamis (3/9/2026), indeks IDX Energy kembali menguat 1,36% ke level 3.364,14. Dengan demikian, penguatan indeks sektor energi semakin melanjutkan tren positif dan sudah menguat 14,16% dalam sebulan per Kamis (3/9/2026).

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai penguatan saham energi saat ini sudah lebih dari sekadar euforia harga komoditas.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara yang Gencar Masuk ke Sektor Energi Hijau

Menurut dia, investor mulai melakukan rotasi ke sektor energi karena mencari emiten dengan visibilitas laba yang lebih jelas.

Apalagi, saham-saham energi sebelumnya sempat mengalami tekanan sehingga memberikan ruang bagi rebound ketika sentimen komoditas kembali membaik.

"Yang dibeli investor bukan hanya harga batubara atau minyaknya, tetapi juga ekspektasi bahwa laba dan arus kas emiten akan tetap kuat," ujar Hendra kepada Kontan, Kamis (3/9/2026).

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga melihat perbaikan fundamental mulai menjadi salah satu penopang penguatan sektor energi.

Menurut Sukarno, pemulihan volume produksi setelah normalisasi RKAB serta ekspektasi pemulihan laba pada semester II-2026 menjadi katalis tambahan, meski pergerakan harga komoditas masih menjadi faktor utama.

"Momentum harga komoditas tetap menjadi katalis utama," ujar Sukarno.

Baca Juga: Mengintip Prospek Kinerja Emiten EBT pada 2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Hendra menilai sektor energi masih berpeluang menjadi salah satu primadona pasar saham hingga akhir 2026. Bahkan, sektor ini berpotensi kembali menjadi salah satu penopang IHSG apabila harga komoditas tetap berada pada level yang menguntungkan bagi produsen.

Namun, dia menilai kenaikan sektor energi ke depan tidak akan terjadi secara merata. Investor akan semakin selektif dalam memilih emiten berdasarkan kekuatan fundamentalnya.

"Fase berikutnya justru akan menjadi fase stock picking," jelas Hendra.

Emiten dengan biaya produksi rendah, neraca yang sehat, arus kas kuat, cadangan besar, serta kemampuan menjaga volume produksi dinilai akan lebih menarik di tengah tren tersebut.

Senada, Sukarno melihat prospek sektor energi masih cukup menarik seiring harga komoditas yang relatif tinggi. Pemulihan produksi pada semester II-2026 juga berpotensi menopang kinerja emiten batu bara.

Dia menambahkan, permintaan energi global dan faktor geopolitik turut menjadi katalis yang perlu diperhatikan investor.

Dari sisi makro, Hendra melihat potensi pelonggaran kebijakan moneter global dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Pelemahan dolar AS juga berpotensi memberikan ruang bagi harga komoditas.

Di dalam negeri, kebutuhan energi, investasi sektor energi, hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur dapat menjadi katalis tambahan bagi sektor tersebut.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati volatilitas harga komoditas dan potensi perlambatan ekonomi global. China menjadi salah satu faktor penting karena pelemahan permintaan dari negara tersebut dapat menekan harga batu bara dan komoditas lainnya.

Baca Juga: Penurunan Level PMI Manufaktur Warning Bagi Emiten, Ini Saham Rekomendasi Analis

Selain itu, arah kebijakan The Fed juga menjadi risiko bagi saham energi. Jika inflasi Amerika Serikat kembali meningkat dan The Fed bersikap lebih hawkish, penguatan dolar AS dan kenaikan yield dapat mendorong investor kembali masuk ke mode risk-off terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Risiko domestik juga datang dari perubahan kebijakan pemerintah terkait ekspor, Domestic Market Obligation (DMO), RKAB, royalti, maupun regulasi pertambangan yang dapat mempengaruhi margin emiten.

Sukarno menambahkan, kenaikan biaya produksi juga perlu menjadi perhatian investor di tengah prospek pemulihan volume produksi.

Untuk pilihan saham, Hendra merekomendasikan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai trading buy dengan target harga Rp2.860 per saham.

ADRO dinilai memiliki fundamental yang relatif solid serta eksposur terhadap bisnis energi yang semakin terdiversifikasi. Hendra melihat ADRO berpotensi ikut menikmati rotasi dana investor ke saham komoditas selama momentum sektor energi masih positif.

Hendra juga memilih PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) sebagai trading buy dengan target harga Rp3.000 per saham. Selain posisi strategis sebagai salah satu pemain batu bara nasional, pengembangan bisnis dan hilirisasi dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×