Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. JP Morgan memproyeksikan performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mendarat di level 7.000 hingga akhir tahun 2026.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia Benny Kurniawan mengatakan, optimisme tersebut didorong oleh perbaikan sentimen pasar, serta posisi investor baik lokal maupun asing yang saat ini berada di level cukup rendah.
"Seperti yang kita tahu asing sudah jualan dan kalau kita lihat fund fact sheet dari reksadana-reksadana ekuitas di Indonesia, sebenarnya cash level mereka juga cukup tinggi. Jadi ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini," kata Benny di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: IHSG Melaju 1,03% ke 6.663 di Sesi I Kamis (3/9), Top Gainers: Saham CPIN, PTBA, JPFA
Untuk tahun 2027, Benny melihat prospek pertumbuhan laba emiten masih cukup positif. Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan laba emiten mencapai sekitar 9% pada tahun depan.
"Saya rasa untuk ke depannya di tahun 2027 konsensus dari analyst expect earnings itu growth sekitar 9% di tahun depan. Dan ini juga pasti ditopang oleh pengeluaran pemerintah, government spending lagi, dan juga investment," ucap Benny.
Benny menambahkan, dirinya masih cukup optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan pendapatan (top line) maupun laba emiten masih cukup solid, meskipun sejumlah segmen mengalami tekanan margin akibat kenaikan biaya input.
Sebagai tambahan informasi, IHSG berada di level 6.640,49 atau menguat 0,68% di perdagangan Kamis (3/9/2026) pukul 14.00 WIB. Sepanjang tahun berjalan IHSG masih terkoreksi cukup dalam hingga 23,2%.
IHSG Turun Tajam
Benny juga menyoroti pelemahan tajam IHSG tahun ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal ketimbang fundamental domestik.
Ia menyebut, kombinasi kenaikan harga minyak, suku bunga yang masih tinggi, serta imbal hasil obligasi di pasar negara maju yang cenderung naik telah mengurangi daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global.
Selain itu, keputusan MSCI pada Februari lalu turut memicu arus keluar modal asing (equity outflow) sebesar US$ 4 miliar - US$ 5 miliar sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: Rupiah Makin Menguat ke Rp 17.691 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (3/9), Asia Perkasa
Kekhawatiran investor asing terhadap potensi fenomena El Nino juga menjadi sentimen negatif tambahan, mengingat dampak historisnya terhadap produksi pangan di Indonesia dan negara-negara sekitarnya khususnya beras, gula, kopi, hingga gandum yang sebagian besar masih diimpor Indonesia dalam jumlah besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














