Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) melejit. Rabu (5/8/2026) harga saham IATA ditutup naik 6,67% di Rp 96 per saham. Kenaikan tersebut membuat saham IATA naik 65,52% dalam lima hari.
Tren harga ini sejalan dengan selesainya proses perubahan kepemilikan saham emiten yang dulunya bernama MNC Energy Investments ini. Perusahaan ini kini mayoritas sahamnya resmi dimiliki oleh PT Karya Pacific Investama (KPI) dari sebelumnya dimiliki PT MNC Asia Holding Tbk.
Perubahan ini terjadi setelah penyelesaian transaksi pengambilalihan saham melalui mekanisme penawaran tender sukarela (voluntary tender offer). Masuknya KPI sebagai mitra strategis diharapkan memperkuat struktur permodalan, mendukung ekspansi, dan mendorong pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
Baca Juga: IHSG Menguat Dua Hari Berturut-turut, Cek Saham Net Buy Terbesar Asing, Rabu (5/8)
Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI pada 30 Juli 2026, MNC Asia Holding menyelesaikan pemindahan saham ke Karya Pacific Investama. Akibatnya kepemilikan saham MNC Asia 0% dari semula tersisa sebanyak 8,81%. Efeknya kepemilikan saham Karya Pacific Investama bertambah menjadi 59,31% dari sebelumnya 50,5%.
Perubahan nama dan kepemilikan saham ini sudah telah mendapat izin dalam rapat umum pemegang saham. Kala itu manajemen beralasan perubahan kepemilikan saham ini untuk memperkuat identitas serta menyelaraskan visi dan strategi bisnis perusahaan.
Jika dilihat secara kinerja per semester I tahun 2026, pendapatan dan laba bersih perusahaan tambang batubara ini anjlok dalam. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, perusahaan ini mencatatkan laba bersih periode berjalan sebesar US$ 596.324 turun 89,09% secara year on year dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 5,47 juta.
Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$ 961.035, merosot 82,43% dari posisi semester I 2025 sebesar US$ 5,47 juta.
Penurunan laba bersih tidak lepas dari melemahnya pendapatan usaha serta meningkatnya beban langsung perusahaan.
Pendapatan usaha IATA tercatat turun 16,47% secara yoy, dari US$ 39,97 juta pada Juni 2025 menjadi US$ 33,38 juta pada Juni 2026.
Di sisi lain, beban langsung justru meningkat 4,41% yoy menjadi US$ 21,26 juta. Kombinasi penurunan pendapatan dan kenaikan beban tersebut membuat laba bruto IATA menyusut 38,17% yoy menjadi US$ 12,12 juta.
Dari sisi operasional, perusahaan ini sebenarnya berhasil melakukan efisiensi pada beban penjualan. Pos tersebut turun signifikan sebesar 68,67% menjadi US$ 2,32 juta.
Baca Juga: Wall Street Cetak Rekor Baru, S&P 500 dan Dow Jones Kembali Menguat
Namun, efisiensi tersebut belum cukup untuk mengimbangi kenaikan sejumlah beban lainnya. Beban usaha meningkat 37,22% secara tahunan menjadi US$ 2,90 juta. Selain itu, beban keuangan juga naik 12,13% yoy menjadi US$ 2,69 juta.
Tekanan terbesar berasal dari pos kerugian selisih kurs bersih, yang melonjak hingga 402,83% YoY menjadi US$ 1,93 juta. Pada periode yang sama tahun lalu, kerugian kurs hanya tercatat sebesar US$ 383.520.
Dari sisi neraca, posisi keuangan IATA per 30 Juni 2026 mengalami penurunan tipis dibandingkan akhir tahun 2025. Total aset tercatat sebesar US$ 233,19 juta, turun 2,16% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar US$ 238,34 juta. Posisi kas dan bank mengalami penurunan signifikan sebesar 43,84% menjadi hanya US$ 1,21 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
