Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
Menurut dia, dampak utama kebijakan tersebut adalah meningkatnya fleksibilitas pembentukan harga sekaligus potensi volatilitas, terutama pada saham dengan likuiditas dan sentimen yang relatif lemah.
Elandry juga menilai perubahan tersebut cukup signifikan bagi saham yang selama ini berada di Rp50. Menurut dia, semakin lebarnya ruang pembentukan harga membuat volatilitas berpotensi meningkat apabila tekanan jual masih dominan.
Untuk prospek ke depan, Nafan menilai investor perlu melihat masing-masing emiten secara bottom-up karena eksposur bisnis Grup MNC berbeda-beda.
MNCN dan MSIN terutama akan dipengaruhi perkembangan bisnis media, advertising, konten, dan digital. Pertumbuhan pendapatan serta kemampuan monetisasi ekosistem digital menjadi faktor yang perlu dicermati.
Sementara itu, BMTR dan BHIT memiliki kompleksitas lebih tinggi karena valuasinya turut dipengaruhi oleh kinerja serta nilai aset anak usaha.
Untuk IPTV, investor akan memperhatikan perkembangan bisnis media dan pay-TV, termasuk kemampuan Perseroan memperbaiki profitabilitas dan arus kas.
Baca Juga: MNC Tourism Indonesia (KPIG) Catat Laba Rp 94,6 Miliar per Kuartal I 2026
Adapun BABP dan BCAP lebih dipengaruhi oleh perkembangan bisnis jasa keuangan, seperti pertumbuhan kredit, kualitas aset, margin, permodalan, dan profitabilitas.
Sementara KPIG akan lebih berkaitan dengan prospek properti, hospitality, dan pengembangan kawasan.
“Jadi, tekanan harga saham secara bersamaan belum tentu mencerminkan memburuknya fundamental seluruh perusahaan, tetapi menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap valuasi dan katalis jangka pendek Grup MNC secara umum sedang menghadapi tekanan,” tutur Nafan.
Hingga akhir 2026, Nafan memperkirakan saham-saham Grup MNC masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi karena pasar memasuki fase price discovery baru setelah batas harga minimum Rp1 diterapkan.
Investor akan mencermati bagaimana masing-masing saham membentuk keseimbangan harga baru setelah tidak lagi memiliki batas bawah Rp50.
Sementara pada 2027, prospek pemulihan akan lebih banyak ditentukan oleh perbaikan fundamental masing-masing perusahaan.
Elandry menambahkan, kinerja operasional, profitabilitas, arus kas, dan struktur neraca akan menjadi faktor penting yang menentukan prospek emiten Grup MNC hingga 2027.
Perkembangan berbagai isu korporasi juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi persepsi risiko, valuasi, dan likuiditas saham.
Baca Juga: Modal Ekspansi, MNC Digital (MSIN) Andalkan Dana Hasil Listing di Luar Negeri
Di sisi risiko, investor perlu mencermati peningkatan volatilitas dan likuiditas yang tidak merata.
Nafan juga menyebut tekanan jual, kinerja keuangan, struktur utang, arus kas, aksi korporasi, serta kemampuan masing-masing emiten menghasilkan laba secara berkelanjutan sebagai sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Menurut Nafan, investor juga perlu berhati-hati dalam menggunakan harga nominal saham sebagai dasar untuk menilai murah atau mahalnya suatu saham. Harga nominal yang rendah tidak otomatis menunjukkan valuasi yang murah.
“Investor perlu melihat kapitalisasi pasar, valuasi relatif, kualitas neraca, prospek pertumbuhan laba dan katalis bisnis. Dalam kondisi saat ini, pendekatan yang lebih prudent adalah menunggu terbentuknya keseimbangan harga baru serta mengonfirmasi adanya perbaikan fundamental dan volume transaksi, dibandingkan sekadar melakukan bottom fishing karena harga saham telah mengalami koreksi dalam,” pungkas Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














