kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.050   58,00   0,34%
  • IDX 6.971   -56,11   -0,80%
  • KOMPAS100 961   -9,81   -1,01%
  • LQ45 704   -10,30   -1,44%
  • ISSI 250   -0,81   -0,32%
  • IDX30 387   -2,03   -0,52%
  • IDXHIDIV20 480   -2,33   -0,48%
  • IDX80 108   -1,36   -1,24%
  • IDXV30 132   -0,77   -0,58%
  • IDXQ30 126   -0,98   -0,77%

Saham Emiten Rumah Sakit Masih Menjanjikan, MIKA dan SILO Jadi Pilihan Utama


Senin, 06 April 2026 / 10:17 WIB
Saham Emiten Rumah Sakit Masih Menjanjikan, MIKA dan SILO Jadi Pilihan Utama
ILUSTRASI. Permintaan layanan kesehatan melonjak, namun hanya saham MIKA dan SILO yang diprediksi paling stabil.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten rumah sakit pada 2026 masih terbilang cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan.

Kenaikan volume pasien, baik dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) maupun segmen privat, diyakini akan menjadi pendorong utama kinerja emiten sektor ini, mulai dari PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, pertumbuhan jumlah pasien akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan emiten rumah sakit. Apalagi, kontribusi pasien privat yang memiliki margin lebih tinggi juga terus meningkat.

“Ini akan mendorong pertumbuhan top line, sementara leverage operasional dari utilisasi yang meningkat berpotensi memperbaiki margin, terutama bagi operator yang sudah matang seperti MIKA dan SILO,” ujar Liza kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: Akuisisi Rp 9 Triliun Jadi Katalis, Saham Siloam (SILO) Masih Menarik Dikoleksi

Liza menilai, MIKA dan MILO dinilai memiliki struktur bisnis yang lebih stabil sehingga mampu mengonversi pertumbuhan pasien menjadi laba yang lebih konsisten.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sektor ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Salah satunya adalah tarif BPJS Kesehatan yang relatif stagnan, sehingga berpotensi menekan margin. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor alat kesehatan.

Di sisi lain, ekspansi rumah sakit baru juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membuka peluang pertumbuhan pendapatan, namun di sisi lain menambah beban biaya operasional dan membutuhkan waktu sebelum memberikan kontribusi laba.

“Jadi, meskipun demand kuat, bottom line tetap sangat bergantung pada efisiensi operasional dan timing monetisasi ekspansi,” jelasnya.

Dari sisi kinerja, Liza melihat perbedaan posisi antar emiten. MIKA dan SILO saat ini berada dalam kondisi paling solid dengan profitabilitas yang sudah stabil. Keduanya diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan laba yang lebih konsisten pada 2026.

Sementara itu, HEAL masih berada dalam fase pemulihan margin seiring ekspansi yang agresif. Adapun SRAJ masih dalam tahap turn around dengan tekanan dari beban bunga dan biaya operasional, meskipun pendapatan tetap tumbuh.

 

Untuk rekomendasi, Liza cenderung menjadikan MIKA dan SILO sebagai pilihan utama (core picks) di sektor rumah sakit. Sementara HEAL dinilai cocok sebagai recovery play, dan SRAJ lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko tinggi.

Ia mematok target harga jangka pendek di level Rp 1.320 untuk HEAL, Rp 2.280 untuk MIKA, serta kisaran Rp 2.800 - Rp 2.900 per saham untuk SILO.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×