kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Saham emiten CPO berpeluang naik, saham apa saja yang layak koleksi?


Senin, 20 Januari 2020 / 07:45 WIB
Saham emiten CPO berpeluang naik, saham apa saja yang layak koleksi?
Petani sawit mengangkut hasil kebun mereka untuk dibawa ke lokasi loading Terima Buah Sawit (TBS) di Desa Semoi III, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (28/8/2019). Banyak sentimen positif, harga CPO tahun ini dipredik

Reporter: Muhammad Kusuma | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Permintaan minyak kelapa sawit atawa crude palm oil (CPO) yang berangsur meningkat di pasar global maupun di pasar domestik diperkirakan menggerek harga CPO. Ujungnya berdampak positif bagi saham emiten CPO yang diprediksi bakal bullish.

Tercapainya kesepakatan dagang tahap pertama antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi sinyal positif membaiknya permintaan CPO global. Kemudian potensi peningkatan impor CPO dari India juga turut menambah sentimen positif bagi saham emiten sawit.

Baca Juga: Cisadane Sawit (CSRA) Maksimalkan Momentum Kenaikan Harga CPO

Dari dalam negeri, program pencampuran biodiesel 30% atau B30 yang akan diterapkan tahun ini juga menambah sentimen positif bagi perusahaan minyak sawit.

Analis Lotus Andalan Sekuritas Sharlita Malik pun menaikkan rating saham CPO menjadi overweight. Dari sekian banyak saham sektor CPO, Sharlita merekomendasikan saham PT Astra Agro Lestari tbk (AALI). Dia merekomendasikan beli dengan target harga Rp 15.000 per saham.

Alasannya, produksi AALI tahun ini berpotensi meningkat hingga 13,5% yoy. Menurutnya, peningkatan produksi AALI didorong oleh dua hal yakni, pertama produksi Tandan Buah Segar (TBS) diperkirakan meningkat dari perkebunan inti dan plasma.

Baca Juga: Harga minyak dibayangi sentimen sesaat

"Meningkat lebih dari 4,9% yoy seiring FFB yield yang naik 4%" jelasnya pada kontan.co.id Minggu (19/1).

Sehingga, laba bersih berpeluang tumbuh menjadi Rp 1,26 triliun dengan volume penjualan yang tumbuh 11% yoy dan harga jual rata?rata yang naik 9% yoy.

Selanjutnya, penambahan pabrik perseroan yang mulai beroperasi di Kalimantan Selatan berpotensi meningkatkan produksi. Menurutnya dengan adanya penambahan pabrik AALI dapat meningkatkan produksi hingga 700.000 ton per tahun.

Baca Juga: Penjualan Mobil Memang Turun, tapi Saham Astra (ASII) dinilai Masih Bullish

"Kami yakin AALI mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan CPO untuk beberapa tahun ke depan," terangnya.

Menilik laporan keuangan AALI, sepanjang sembilan bulan pertama tahun lalu perusahaan mencatatkan pendapatan Rp 12,38 triliun. Minyak sawit mentah dan turunannya menjadi penyumbang terbesar pendapatan dengan total Rp 11,23 triliun.

Disisi lain, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee merekomendasikan saham alternatif selain AALI. Hans merekomendasikan saham PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 1.410.

Hingga kuartal III 2019 lalu, LSIP membukukan pendapatan mencapai Rp 2,58 triliun. Jumlah tersebut turun sekitar 10% dari Rp 2,87 triliun secara yoy. Dari bottom line atau laba bersih, LSIP mencatatkan laba bersih Rp 49,46 miliar.

Namun LSIP tidak berencana melakukan pencairan utang dalam beberapa tahun ke depan dan ini menjadikan perusahaan tersebut memiliki fundamental baik, yaitu cleanest balance sheet atau zero debt level.

Baca Juga: Jelang rilis penjualan kendaraan bermotor, IHSG berpeluang melemah

Sedangkan Analis Panin Sekuritas William Hartanto merekomendasikan saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dengan target harga Rp 590.

SIMP membukukan pendapatan pada kuartal III/2019 sekitar Rp 10,09 triliun. Jumlah tersebut turun dari Rp 10,26 triliun atau turun 1,63% yoy.

SIMP masih diuntungkan dengan merek dagang Bimoli yang relatif kuat di pasar dan mampu membukukan marjin lebih tinggi diantara produk kompetitor.

Baca Juga: Pebisnis Indonesia Menadah Berkah Boikot CPO Malaysia

Meski begitu, Sharlita dan Hans mengingatkan untuk memerhatikan dampak dari regulasi Renewable Energy Directive (RED) II oleh Uni Eropa yang membatasi penggunaan CPO. Regulasi tersebut berpotensi untuk menekan harga CPO.

Namun di sisi lain, Hans optimis pembatasan terhadap CPO lewat regulasi RED II tidak akan berdampak signifikan berkat regulasi B30.

Regulasi B30 berpeluang menggantikan ekspor CPO ke EU sekitar ?3 juta ton per tahun hingga 2030 seiring kebijakan RED II.

Sharlita menambahkan kondisi cuaca yang tidak mendukung dapat mempengaruhi harga CPO. Jika terjadi kekeringan, pasokan terhadap CPO akan terpukul karena gagal panen.




TERBARU

Close [X]
×