kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harga minyak dibayangi sentimen sesaat


Jumat, 17 Januari 2020 / 19:21 WIB
Harga minyak dibayangi sentimen sesaat
ILUSTRASI. Harga minyak menguat seiring dengan harapan pasar bahwa ekonomi China akan rebound.

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (17/1). Melansir Bloomberg, pukul 17.30 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange menguat 0,63% ke level US$ 58,59 per barel. Harga minyak melanjutkan kenaikan sebelumnya.

Harga minyak menguat seiring dengan harapan pasar bahwa ekonomi China akan rebound dari pertumbuhan terlemah dalam 29 tahun terakhir. Ekonomi China tumbuh hanya 6,1% di tahun lalu. Selain itu penandatanganan kesepakatan dagang fase satu antara Amerika Serikat (AS) dan China juga menjadi katalis positif lain.

Pada kesepakatan tersebut, AS akan memangkas tarif produk impor asal China senilai US$ 120 miliar yang semula 15% jadi 7,5%. Sebagai balasannya China akan membeli barang  dan jasa milik AS senilai US$ 200 miliar hingga 2021.

Baca Juga: Manulife Aset Manajemen memprediksi pasar saham Asia lebih atraktif tahun ini

Namun kesepakatan tersebut disangsikan bisa mengerek naik harga minyak ke depan.  Nanang Wahyudin. “Kesepakatan tersebut dinilai tidak menyasar inti permasalahan. Tarif hanya dipangkas bukan dihapus, terlebih ada tambahan tarif 25% yang dikenakan untuk produk China senilai US$ 250 miliar,” ujar Nanang Wahyudin, analis Finex Berjangka kepada Kontan.co.id, Jumat (17/1).

Sehingga menurutnya hal ini yang mengakibatkan harga minyak dunia cenderung sideways atau datar pada perdagangan hari ini.

Baca Juga: Harga CPO cetak rekor penurunan terburuk dalam sepekan usai India batasi impor

Hal yang sama juga diungkapkan oleh analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono. Menurut Wahyu, kenaikan harga minyak dunia akibat pertumbuhan ekonomi China dan penandatanganan fase pertama hanya bersifat kneejerk reaction.

“Semenjak deskalasi konflik Iran-AS, harga minyak yang sempat menyentuh US$ 65 per barel kini anjlok lagi di kisaran US$ 55 per barel–US$ 57 per barel. Sekarang bisa rebound ke US$ 58 per barel itu cuma sesaat saja, tidak lama akan kembali terkoreksi,” terang Wahyu.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×