kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.354   10,00   0,06%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Terburuk, Ini Biang Keroknya


Kamis, 30 April 2026 / 15:20 WIB
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Terburuk, Ini Biang Keroknya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus tertekan dan mencetak rekor terburuk baru di tengah kombinasi tekanan global dan domestik. 

Berdasarkan data Bloomberg, pada Rabu (29/4), kurs rupiah di pasar spot melemah 0,48% menjadi Rp 17.326 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan berlanjut pada penutupan perdagangan Kamis (30/4)dengan rupiah kembali terdepresiasi 0,12% ke Rp 17.346 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh tiga faktor eksternal utama, yakni kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Baca Juga: Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Bidik Pertumbuhan Kredit Hingga 9% pada 2026

"Rupiah menyentuh rekor terendah ketika mayoritas mata uang Asia melemah akibat harga minyak yang tinggi," kata Josua kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, harga minyak mentah jenis Brent crude oil sempat berada di kisaran US$ 111–112 per barel, dipicu ketegangan geopolitik menyusul rencana blokade laut yang lebih panjang di kawasan Selat Hormuz.

Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) ke level sekitar 98.

Di saat yang sama, harga minyak terus meningkat, memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Selain faktor eksternal, tekanan domestik juga memperburuk pelemahan rupiah. Permintaan dolar AS di dalam negeri meningkat, baik untuk kebutuhan impor, repatriasi dividen, maupun kenaikan biaya logistik.

"Permintaan dolar di dalam negeri meningkat untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan ongkos pengiriman yang lebih mahal," kata Josua.

Secara historis, tekanan ini telah terlihat sejak 23 April, saat rupiah melemah ke kisaran Rp 17.300 per dolar AS. 

Pelemahan dipicu oleh kombinasi kenaikan harga minyak, penguatan dolar, permintaan valas musiman, serta kekhawatiran investor terhadap dampak lonjakan harga energi terhadap fiskal.

Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia dinilai rentan terhadap kenaikan harga energi global. 

Kenaikan harga minyak berpotensi menekan neraca perdagangan migas, memperbesar beban subsidi energi dalam APBN, serta mendorong inflasi dan kebutuhan valuta asing.

"Setiap kenaikan harga minyak langsung dibaca pasar sebagai risiko terhadap neraca perdagangan migas, APBN, inflasi, dan kebutuhan valas," ujar Josua

Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah cenderung lebih dalam dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menambahkan, faktor domestik lain yang turut menekan rupiah adalah belum pulihnya kepercayaan investor asing terhadap kondisi makroekonomi Indonesia.

Menurutnya, kenaikan credit default swap (CDS) sebesar 20,2 basis poin mencerminkan persepsi risiko yang masih tinggi, sehingga mendorong arus keluar modal asing.

Di sisi global, sikap Federal Open Market Committee yang cenderung terpecah dengan tiga anggota mendorong kebijakan lebih hawkish turut menambah tekanan terhadap rupiah dan mata uang emerging markets lainnya.

Baca Juga: Jasindo Syariah Siapkan Strategi Genjot Asuransi Perjalanan Ibadah di Musim Haji 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×