kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Rupiah menguat, tetap waspadai kemungkinan volatile


Kamis, 31 Januari 2019 / 19:58 WIB
Rupiah menguat, tetap waspadai kemungkinan volatile


Reporter: Amalia Fitri | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) atau The Fed untuk menekan suku bunga acuan di kisaran 2,25%-2,5% membawa rupiah menguat sebesar 1,12% atau berada di level Rp 13.973 per dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan pasar spot Kamis (31/1). Pada perdagangan pasar spot sebelumnya, rupiah ditutup berada di level Rp 14.131 per dollar AS.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Change (Jisdor) menunjukkan rupiah berada di level Rp 14.072 per dollar AS. Angka tersebut menguat sebesar 0,28% dari posisi sebelumnya di Rp 14.112 per dollar AS.

Keputusan The Fed untuk bersabar meningkatkan suku bunga acuan didasarkan pada kondisi geopolitik dunia seperti negosiasi Brexit, perang dagang antara China dan AS, serta penutupan pemerintahan AS. Akibatnya, para pelaku pasar memburu pasar berisiko di kawasan emerging market, salah satunya adalah Indonesia. Inilah sentimen yang mendominasi penguatan rupiah hari ini.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual melihat, rupiah bisa bergerak menguat secara terbatas dalam kurun kuartal I 2019. “Rupiah menguat hari ini, tetapi perlu diingat bahwa perundingan dagang antara China dan AS masih terus berjalan, masih banyak perubahan yang dapat terjadi,” jelasnya.

Tak hanya perundingan dagang AS dan China, saat ini negosiasi pembangunan tembok perbatasan antara Presiden AS dengan parlemen memang akan memasuki babak baru pada Februari mendatang. Ditambah lagi, negosiasi Brexit yang juga masih alot di Inggris. Jika perang berlanjut, pembangunan tembok berjalan, dan Brexit tercapai, bisa menjadi penyebab melemahnya rupiah.

Dengan demikian, David memproyeksi dalam jangka pendek, rupiah akan berada di kisaran Rp 13.800 per dollar AS – Rp 14.300 per dollar AS. “Sebenarnya, yang terpenting adalah bagaimana rupiah tidak bergerak secara volatile tahun ini, sebab jika demikian, perekonomian sektor riil bisa terganggu,” ujarnya.

David melihat sentimen yang datang dari keputusan The Fed masih akan mendominasi pasar pedagangan besok. Dirinya memprediksi rupiah masih bisa menguat tipis di kisaran Rp 13.920-Rp 14.020 per dollar AS pada perdagangan besok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×