kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

MKTR Bidik Penjualan Rp 1,39 Triliun di 2026, Simak Rekomendasi Analis


Rabu, 10 Juni 2026 / 20:18 WIB
MKTR Bidik Penjualan Rp 1,39 Triliun di 2026, Simak Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) (Dok/MKTR)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) menargetkan penjualan MKTR mencapai Rp 1,39 triliun di tahun 2026.

Untuk menopang itu, MKTR juga menargetkan produksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 336.400 ton sepanjang tahun 2026.

Produksi minyak sawit alias crude palm oil (CPO) sebesar 73.292 ton dan Palm Kernel diproyeksi produksinya sebesar 15.031 ton di tahun 2026. 

Direktur Keuangan & Investasi MKTR, Wawan Sulistyawan mengatakan perseroan optimistis bahwa industri kelapa sawit nasional akan melanjutkan pertumbuhan yang positif pada sepanjang 2026. 

“Perseroan akan tetap fokus pada strategi yang telah ditetapkan mulai dari optimalisasi aset dan peningkatan kapasitas produksi hingga penciptaan nilai tambah melalui berbagai inovasi berbasis green industry,” ujarnya dalam Public Expose MKTR, Rabu (10/6/2026).

Baca Juga: Menthobi Karyatama Raya (MKTR) Bagi Dividen Rp 22,5 Miliar dari Buku Tahun 2026

Meskipun begitu, MKTR tetap menjalankan mitigasi risiko atas berbagai potensi tantangan di industri pada tahun ini.

Antara lain gejolak perekonomian akibat dinamika geopolitik global, faktor iklim dan cuaca dengan kemungkinan terjadinya El Nino mulai awal semester kedua, serta tantangan teknis lainnya.

Wawan bilang, sebagai bagian dari inovasi berbasis ramah lingkungan, MKTR telah menghasilkan produk ramah lingkungan yang diolah dari tankos menghasilkan pupuk organik dengan merek dagang GreenGrow. 

“Sebagai pionir pupuk organik berbahan baku produk samping kelapa sawit, MKTR akan terus meningkatkan kualitas serta produktivitas GreenGrow yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional,” katanya.

Sebagai gambaran, produksi CPO MKTR tercatat tumbuh 15,30% year on year (YoY) pada kuartal I 2026 menjadi 18.588 ton dibandingkan 16.121 ton pada periode sama tahun sebelumnya. 

Peningkatan juga terjadi pada produksi inti kelapa sawit (Palm Kernel/PK) sebesar 13,10% YoY diikuti kenaikan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) menjadi 1.619 ton dibandingkan 1.536 ton serta Palm Kernel Oil (PKO) yang tumbuh dari 1.746 ton menjadi 1.897 ton.

Baca Juga: Cisadane Sawit Raya (CSRA) Catat Produksi TBS Inti 354.290 Ton Sepanjang 2025

Seiring dengan situasi tersebut, maka pada kuartal I 2026 MKTR mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,25% YoY menjadi sebesar Rp322,801 miliar dibandingkan Rp267,674 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. 

Laba sebelum pajak penghasilan meningkat 35,6% menjadi Rp15,018 miliar pada tiga bulan pertama 2026 ini dibandingkan Rp11,069 miliar.

Alhasil, kenaikan laba bersih tercatat sebesar 40,88% YoY menjadi Rp8,733 miliar pada kuartal I 2026 dibandingkan Rp6,199 miliar pada kuartal I 2025.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, MKTR diperdagangkan dengan valuasi premium dibanding peers karena narasi "Green Agribusiness" dan usia tanaman yang produktif.

Hal ini menjadikannya salah satu emiten sawit mid-cap dengan profil fundamental paling efisien. 

“Di tengah tekanan sektoral kuartal I 2026, MKTR relatif tahan berkat basis tanaman muda yang produktivitasnya terus meningkat dan struktur biaya yang terkendali dibanding peers,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kinerja operasional MKTR pada kuartal I 2026 menunjukkan tren volume yang cukup terjaga jika dibandingkan dengan kuartal I 2025. 

Adapun produksi CPO mengalami kestabilan di kisaran angka tahun 2025, yakni mencapai sekitar 16.121 ton pada basis perbandingan. 

Baca Juga: SSMS, DSNG, dan BWPT Respons PP Ekspor SDA: Penjualan CPO Masih di Pasar Domestik

Sedangkan untuk produksi turunan, tercatat serapan produksi CPKO berada sebesar 1.619 ton dan PKO sebesar 1.897 ton. 

“Secara operasional, MKTR diuntungkan oleh usia pohon sawitnya yang berada di masa prima (usia produktif optimal), sehingga yield atau produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) relatif stabil dibandingkan beberapa kompetitor besar yang sudah menghadapi isu replanting (peremajaan) skala besar,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).

Abida melihat, implementasi B50 menjadi katalis struktural terkuat yang meningkatkan serapan CPO domestik secara signifikan dan membuka ruang kenaikan ASP bagi emiten sawit termasuk MKTR. 

Kebijakan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berdampak terbatas karena fokus utamanya pada emiten ekspor besar, sementara MKTR dengan orientasi domestik yang kuat justru lebih diuntungkan dari skema B50. 

“Peningkatan tarif TBS adalah sentimen positif karena mencerminkan harga CPO yang menguat, yang langsung mendongkrak pendapatan MKTR,” ungkapnya.

Nafan berpandangan, sentimen positif MKTR masih berkaitan dengan adanya pengetatan suplai minyak nabati dunia akibat isu cuaca dan peningkatan mandat biodiesel domestik menjaga harga CPO di level yang menguntungkan bagi margin produsen.

Baca Juga: Harga CPO Berpeluang Rebound, Ini Faktor Pendorongnya

Di sisi lain, MKTRjuga berhasil mengintegrasikan bisnis dari kebun hingga pabrik pengolahan inti sawit (Kernel Crushing Plant), yang meminimalkan hilangnya nilai tambah komoditas,” tuturnya.

Sentimen negatif untuk MKTR masih berkaitan dengan dampak kebijakan DSI, peningkatan tarif TBS, dan kenaikan biaya logistik, terutama akibat kenaikan BBM. Nafan pun merekomendasikan speculative buy untuk MKTR dengan target harga Rp 147 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×