Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditopang sentimen global yang membaik dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Melansir Bloomberg pada Jumat (14/8/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 50 atau 0,28% secara harian menjadi Rp 17.827 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah spot menguat 0,39% dari posisi Rp 17.897 per dolar AS.
Sejalan dengan pasar spot, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mencatat penguatan. Pada Jumat, rupiah Jisdor menguat Rp 46 atau 0,26% dalam sehari menjadi Rp 17.836 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah Jisdor menguat 0,43% dari posisi Rp 17.913 per dolar AS.
Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyebut pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir turut dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: MDKA Borong 100,56 Juta Saham EMAS, Kepemilikan Naik Jadi 64,013%
"Sentimen risk-on di pasar global juga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melakukan rebound secara teknikal setelah sebelumnya mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).
Menurut Wahyu, faktor domestik juga memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah. Salah satunya berasal dari komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain itu, mulai kembalinya capital inflow secara selektif ke instrumen pasar uang dan Surat Berharga Negara (SBN) turut menjadi sentimen positif bagi rupiah.
Wahyu mengatakan kondisi tersebut didukung oleh tingkat imbal hasil riil (real yield) Indonesia yang kembali menarik setelah dolar AS mengalami koreksi.
Prospek Rupiah Pekan Depan
Memasuki perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat secara terbatas atau cautiously bullish. Namun, ruang penguatan mata uang Garuda dinilai masih terbatas karena pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Kedua indikator tersebut penting untuk melihat ketahanan cadangan devisa sekaligus potensi permintaan valuta asing (valas) dari korporasi.
Baca Juga: Transaksi Kripto Tembus Rp 28,58 Triliun, Bittime Ungkap Prospek Semester II-2026
Pasar juga akan menunggu sinyal kebijakan dari bank sentral. Menjelang pertemuan kebijakan moneter, arah suku bunga BI-Rate serta forward guidance dari pejabat The Fed diperkirakan menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah.
Di sisi lain, perkembangan harga komoditas dan kondisi geopolitik global masih menjadi sejumlah risiko yang perlu diperhatikan pasar valuta asing.
Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Rp 17.600-Rp 18.000
Dari sisi teknikal, Wahyu melihat pasangan USD/IDR masih menunjukkan pola pullback dari area tertinggi di kisaran Rp 18.100-Rp 18.200 per dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, Wahyu memproyeksikan rupiah bakal bergerak dalam rentang Rp 17.600-Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen eksternal, arah kebijakan bank sentral, arus modal asing, serta perkembangan indikator ekonomi domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
