Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) belum sepenuhnya menjadi katalis positif bagi seluruh mata uang Asia. Sejumlah mata uang justru bergerak beragam karena pasar mulai mempertimbangkan kondisi fundamental dan neraca perdagangan masing-masing negara.
Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (18/8/2026), indeks dolar AS atau DXY berada di level 99,629. Pada saat yang sama, USD/JPY berada di level 159,638 dan USD/IDR di Rp 17.870.
Sementara itu, USD/CNY tercatat 6,74599, USD/KRW berada di 1.412,88, sedangkan USD/SGD bertengger di level 1,27795.
Tekanan terhadap dolar AS secara global terjadi di tengah perlambatan data ketenagakerjaan AS dan penurunan inflasi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve atau The Fed.
Namun, pelemahan DXY tersebut tidak serta-merta menghasilkan penguatan seragam pada mata uang Asia. Perbedaan fundamental ekonomi dan kebijakan masing-masing bank sentral membuat pergerakan mata uang kawasan cenderung mengalami divergensi.
Baca Juga: ETF Emas Dapat Menjadi Pilihan Diversifikasi Portofolio di Tengah Harga Emas Tinggi
Pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perhatian pelaku pasar mulai bergeser dari faktor kebijakan The Fed menuju fundamental ekonomi domestik dan struktur neraca perdagangan setiap negara.
Pada kelompok mata uang yang melemah, yen Jepang masih menghadapi tekanan akibat lebarnya selisih suku bunga atau yield spread antara AS dan Jepang. Selain itu, normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) yang berjalan relatif lambat turut membatasi penguatan yen.
Rupiah juga menghadapi sejumlah tekanan domestik. Pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan likuiditas valas korporasi untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri, serta arus keluar modal asing dari pasar obligasi domestik menjadi faktor yang membebani rupiah.
Sebaliknya, yuan China, won Korea Selatan, dan dolar Singapura mendapatkan dukungan dari fundamental yang lebih solid.
Lonjakan ekspor semikonduktor dan komponen teknologi yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu faktor pendukung yuan dan won. Pergerakan yuan juga mendapatkan sokongan dari intervensi stabilisasi likuiditas oleh Bank Sentral China (PBoC).
Di Singapura, Otoritas Moneter Singapura (MAS) secara konsisten mempertahankan kebijakan apresiasi bertahap pada nominal effective exchange rate (S$NEER). Kebijakan tersebut diarahkan untuk membantu menekan tekanan inflasi impor.
Yuan dan Dolar Singapura Jadi Pilihan
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, dolar Singapura dan yuan China menjadi dua mata uang Asia yang menarik perhatian pelaku pasar.
Dolar Singapura dinilai memiliki daya tarik sebagai jangkar portofolio karena didukung cadangan devisa yang besar serta kebijakan moneter MAS yang berorientasi pada pengendalian inflasi.
Baca Juga: Demutualisasi BEI Didorong, Ini Tantangan Menuju Bursa Kelas Dunia
Sementara itu, yuan menunjukkan pembalikan tren yang cukup kuat dari area 7,18 menuju 6,74. Penguatan tersebut ditopang stimulus fiskal serta posisi neraca perdagangan China yang masih mencatat surplus stabil.
Won Korea Selatan juga dinilai memiliki prospek positif. Mata uang Negeri Ginseng tersebut mendapatkan dukungan dari tingginya permintaan global terhadap cip memori dan teknologi AI.
Kondisi itu menempatkan Korea Selatan sebagai salah satu negara yang berpotensi memperoleh manfaat besar dari siklus ekspansi manufaktur global berbasis teknologi.
Hingga akhir 2026, Indeks Dolar AS diproyeksikan bergerak terbatas pada rentang 97–100 seiring berlanjutnya siklus pelonggaran The Fed secara bertahap.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi mata uang Asia yang berbasis ekspor untuk melanjutkan apresiasi. Sebaliknya, mata uang negara dengan defisit ganda masih berpotensi menghadapi volatilitas.
"Secara umum, yen potensial akan cenderung rebound di mana setiap penguatan USD akan cenderung dibatasi atau dihambat terutama di level tinggi dengan potensi intervensi moneter," ungkap Wahyu kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Pasangan USD/JPY diproyeksikan bergerak dalam rentang 150,00–164,00. Sementara itu, USD/IDR diperkirakan terkonsolidasi pada kisaran Rp 17.000–Rp 18.200, dengan area Rp 17.500–Rp 17.800 menjadi level konsolidasi utama.
Stabilitas rupiah dinilai masih sangat bergantung pada intervensi pasar oleh Bank Indonesia serta kepastian arus modal asing.
Untuk USD/SGD, pergerakan diperkirakan stabil dan berkonsolidasi secara perlahan di sekitar level 1,2700, dengan rentang 1,2650–1,2900.
Adapun USD/KRW berpotensi menguji kisaran 1.350–1.390 meski cenderung terkonsolidasi di sekitar level 1.400. Sementara USD/CNY berpeluang melanjutkan koreksi menuju level 6,6900 dengan rentang konsolidasi 6,6000–6,9000.
Baca Juga: Menanti Hasil RDG BI, Rupiah Diprediksi Melemah pada Rabu (19/8)
Pergerakan yuan tersebut berpotensi mendapatkan dukungan dari arus masuk investasi ke pasar modal China.
Strategi Investasi di Pasar Valas Asia
Untuk mengoptimalkan peluang di pasar valas Asia, investor perlu mencermati sejumlah indikator utama. Di antaranya adalah arah kebijakan dot plot The Fed, divergensi neraca pembayaran antara negara eksportir dan importir, serta batas toleransi intervensi bank sentral domestik seperti Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan Jepang.
Wahyu menyarankan investor menerapkan strategi alokasi portofolio secara terukur untuk menghadapi dinamika pasar valas saat ini.
"Mengalokasikan eksposur pada mata uang berbasis kekuatan ekspor teknologi (KRW, CNY) dan aset safe-haven regional (SGD), sambil membatasi eksposur pada mata uang yang sensitif terhadap outflow (IDR)," jelas Wahyu.
Selain diversifikasi, penggunaan instrumen hedging atau lindung nilai seperti forward dan opsi valas juga dianjurkan bagi portofolio berbasis rupiah. Strategi tersebut dapat digunakan untuk mengunci risiko fluktuasi nilai tukar ketika pergerakan rupiah mendekati batas psikologis.
Sementara untuk yen Jepang, investor dapat mempertimbangkan akuisisi secara bertahap melalui strategi tactical reversal play ketika muncul sinyal intervensi nyata atau indikasi percepatan kenaikan suku bunga oleh BoJ.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
