kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Rupiah Melemah ke Level Terendah, Proyeksi Masih di Kisaran Rp 17.000 per Dollar AS


Minggu, 12 April 2026 / 11:00 WIB
Rupiah Melemah ke Level Terendah, Proyeksi Masih di Kisaran Rp 17.000 per Dollar AS
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan dan bergerak di area pelemahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi kombinasi risiko global dan memburuknya sentimen domestik.

Melansir data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,08% ke level Rp 17.104 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (10/4/2026). Secara mingguan, rupiah tercatat turun sekitar 0,73%.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan. Rupiah berada di level Rp 17.112 per dolar AS, melemah 0,17% secara harian dan turun 0,57% dalam sepekan dari posisi Rp 17.015 per dolar AS pada Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: Rupiah Melemah Sepekan, Sentimen Global dan Domestik Membayangi

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai posisi rupiah saat ini sudah memasuki area “uncharted territory”, mencerminkan tekanan yang tidak hanya bersifat teknikal, tetapi juga fundamental.

Menurut dia, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar, terutama terkait potensi gangguan jalur distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz. Selain itu, dolar AS tetap relatif kuat didukung ketahanan ekonomi Amerika Serikat.

"Data terbaru menunjukkan cadangan devisa Indonesia per Maret mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir. Hal ini mengurangi "amunisi" Bank Indonesia untuk melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (10/4/2026).

Di sisi lain, pasar masih mengalibrasi ulang proyeksi ekonomi di bawah pemerintahan baru terkait stabilitas fiskal, terutama dalam menghadapi kenaikan harga minyak global yang dapat membebani subsidi energi.

Dari sisi domestik, pasar juga masih mengalibrasi ulang prospek ekonomi di bawah pemerintahan baru, terutama terkait stabilitas fiskal di tengah potensi kenaikan harga energi global yang dapat membebani subsidi.

Untuk pergerakan rupiah pada hari Senin (13/4/2026), Wahyu menilai pelaku pasar perlu mencermati sejumlah katalis, termasuk pertemuan International Monetary Fund (IMF) yang dapat memberikan sinyal terkait arah ekonomi global dan arus modal ke negara berkembang.

Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi kunci. Jika tensi mereda dan jalur distribusi energi kembali normal, tekanan terhadap rupiah berpotensi berkurang. Sebaliknya, eskalasi konflik dapat memperburuk sentimen.

Pasar juga menunggu data perdagangan Indonesia. Surplus yang menyempit berpotensi menjadi sentimen negatif tambahan bagi rupiah.

Dalam kondisi ini, intervensi Bank Indonesia di pasar valas maupun melalui instrumen DNDF diperkirakan akan menjadi penopang utama untuk menahan pelemahan lebih lanjut.

Wahyu memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.200 per dolar AS. Level support berada di rentang Rp 17.000–Rp 17.050, sementara resistance terdekat di Rp 17.130. Jika level tersebut ditembus, pelemahan lanjutan berpotensi menuju Rp 17.200 per dolar AS.

Baca Juga: Dolar AS Melemah, Ini Mata Uang yang Layak Dilirik Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×