Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah menembus level 17.105 per dolar AS untuk pertama kalinya pada Selasa (7/4/2026), meski Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah melakukan intervensi untuk menahan pelemahan mata uang.
Tekanan datang dari gejolak energi yang dipicu konflik Timur Tengah serta kekhawatiran fiskal dan tata kelola yang membuat investor asing enggan menanamkan modal.
Baca Juga: OJK Minta Masyarakat Pahami Fundamental Sebelum Berinvestasi di Aset Kripto
Melansir Reuters, Indonesia, seperti kebanyakan negara berkembang di Asia, merupakan pengimpor minyak bersih, sehingga sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah.
Selain itu, pasar juga masih mengkhawatirkan disiplin fiskal, independensi bank sentral, dan regulasi pasar saham.
"Faktor eksternal masih menjadi penggerak utama, dan sentimen risiko yang melemah serta harga minyak yang tinggi akibat potensi konflik Iran yang lebih panjang kemungkinan akan terus menekan rupiah, sama seperti mata uang regional lain di Asia kecuali Jepang," kata Christopher Wong, analis mata uang di OCBC.
Investor asing telah melepas saham senilai Rp 1,60 triliun ($93,62 juta) selama tiga sesi perdagangan pertama April, menambah aliran keluar besar dari bulan Maret senilai Rp 23,34 triliun, menurut data LSEG.
Baca Juga: IHSG Cenderung Sideways pada Rabu (8/4), Ini Rekomendasi Sahamnya
Mata uang regional lain di Asia juga berada di bawah tekanan. Ringgit Malaysia dan peso Filipina masing-masing turun sekitar 0,2%, sementara dolar Singapura relatif stabil.
"Pelaku pasar Asia kecuali Jepang berhati-hati setelah Iran menolak kesepakatan gencatan senjata sementara, dan ancaman Trump belum sepenuhnya tercermin di harga," ujar Wong.
"Pasar kemungkinan membutuhkan kepastian soal kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali dan apakah Iran mendapatkan jaminan. Tanpa kejelasan, mata uang regional kemungkinan akan tetap lemah untuk sementara."
Sementara itu, sebagian besar bursa saham regional mengalami koreksi karena ketidakpastian terkait Iran. Indeks saham utama di Singapura, Indonesia, dan Malaysia turun, sehingga MSCI ASEAN melemah 0,2%.
Baca Juga: Prospek Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) Masih Terbatas, Cek Rekomendasi Analis
Bursa Manila berhasil menutup perdagangan sedikit lebih tinggi, naik 0,2%, sedangkan saham di Thailand meningkat 0,7% setelah data inflasi Maret menunjukkan penurunan tak terduga, meskipun pemerintah memperingatkan potensi lonjakan inflasi pada kuartal II.
Di Filipina, cerita berbeda muncul karena inflasi tahunan Maret melampaui ekspektasi dan melewati target bank sentral.
Ini mengikuti rapat off-cycle bank sentral pekan lalu, di mana suku bunga tetap dipertahankan di 4,25%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













