kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.899   76,00   0,43%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Musim Dividen Belum Usai, Saham-Saham Ini Bisa Ditimbang


Kamis, 28 Mei 2026 / 10:18 WIB
Musim Dividen Belum Usai, Saham-Saham Ini Bisa Ditimbang
ILUSTRASI. Sejumlah emiten dijadwalkan akan melaksanakan cum dividen tunai pada akhir pekan hingga awal Juni 2026 mendatang. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim dividen masih terus berlangsung. Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, sejumlah emiten dijadwalkan akan melaksanakan cum dividen tunai pada akhir pekan hingga awal Juni 2026 mendatang.

Ketika pasar saham kembali dibuka pada Jumat (29/5) nanti, ada 9 emiten yang dijadwalkan cum dividen tunai. Di antaranya adalah SOHO (Rp 39,5 per saham), PTPS (Rp 4,5), TPMA (Rp 42), TCID (Rp 38), ASLC (Rp 1), PPGL (Rp 39,5), GEMS (Rp 237,95), INET (Rp 0,04), dan SRSN (Rp 1,1).

Berlanjut ke Selasa (2/6/2026) pekan depan, ada 12 emiten yang akan cum dividen. Di antaranya adalah INDY (Rp 10,25), RGAS (Rp 1,1), STAA (Rp 75), CPIN (Rp 180), JATI (Rp 1,91), ASRM (Rp 3), dan JSMR (Rp 156,23). Selain itu, ada BFIN (Rp 35), NELY (Rp 10), GEMA (Rp 2), TOWR (Rp 6,89), dan LFLO (Rp 4,59).
Baca Juga: Harga Paladium Tertekan di Tengah Ekspektasi Bunga Tetap Tinggi

Jumlah emiten yang cum dividen pada Rabu (3/6) bertambah jadi 13 emiten. Di antaranya adalah INTP (Rp 468), SMKL (Rp 3), KLBF (Rp 20), KMDS (Rp 26), BOBA (Rp 6), MYOH (Rp 64,31), CRSN (Rp 0,33), UVCR (Rp 0,5), RMKE (Rp 30), KINO (Rp 45), PGUN (Rp 6,97), EMTK (Rp 5), dan SCMA (Rp 12).

Sedangkan pada Kamis (4/6), ada 12 emiten yang dijadwalkan cum dividen. Di antaranya adalah SMAR (Rp 270), AADI (belum umumkan nominal dividen per saham), GJTL (Rp 80), MAHA (Rp 12), EKAD (Rp 9), INCI (Rp 20), NRCA (Rp 40), PSGO (Rp 6), TAPG (Rp 91), PGAS (Rp 125,61), SMCB (Rp 36,52), dan BISI (Rp 26).

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, untuk menentukan daya tarik suatu dividen, indikator utama yang biasa digunakan oleh investo adalah dividend yield. Dari beberapa emiten tadi, ada beberapa nama yang memiliki potensi dividend yield paling menarik atau di atas rata-rata pasar sekitar 3%-5%.

Contohnya adalah GEMS (Rp 237,95) yang dianggap cukup menarik lantaran sektor batubara secara historis memiliki dividend payout ratio (DPR) sangat tinggi. GEMS pun konsisten membagikan dividen interim berkali-kali dalam setahun, sehingga akumulasi total imbal hasilnya sering kali menembus dua digit.

Berikutnya adalah PGAS (Rp 125,61) yang mengalokasikan sekitar 80% dari laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen tunai. Dengan posisi harga saham PGAS pada perdagangan Selasa (26/5/2026) yaitu Rp 1.895 per saham, sehingga estimasi yield dividen yang dihasilkan sekitar 6,63%. Hal tersebut menjadikan PGAS sebagai salah satu BUMN pembagi dividen paling royal saat ini.

Harry juga menyebut, saham SMAR (Rp 270) juga menarik, mengingat nominal dividennya yang besar mampu memberikan persentase imbal hasil tebal. Hal ini didukung oleh stabilitas kinerja operasional perkebunan kelapa sawit sepanjang 2025.

Baca Juga: Kinerja Indah Kiat (INKP) dan Tjiwi Kimia (TKIM) Diuntungkan Kurs, Ini Rekomendasinya

Ada pula INTP (Rp 468) yang dianggap menarik lantaran memiliki nominal dividen per saham terbesar di antara emiten-emiten yang cum dividen pekan depan. Memang, sektor semen sedang mengalami perlambatan akibat berbagai tantangan.

"Pembagian dividen jumbo ini merupakan bentuk komitmen manajemen untuk mengembalikan nilai tunai kepada pemegang saham, meskipun investor perlu mencermati valuasi harga sahamnya agar yield tetap optimal," ungkap Harry, Rabu (27/5/2026).

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyebut, ada beberapa emiten yang menawarkan potensi yield dividen tinggi. Contohnya adalah INTP (kurang lebih 9,7%), TPMA (8,3%), STAA (7,3%), GJTL (6,7%), dan PGAS (6,6%).

Sementara menurut Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, emiten seperti GEMS, INTP, PGAS, CPIN, JSMR, KLBF, TOWR, hingga kemungkinan AADI terlihat menarik untuk dicermati. Selain faktor nilai dividen per saham yang relatif besar, emiten-emiten tersebut berasal dari sektor yang fundamentalnya lebih mapan. 

Rully menilai, musim pembagian dividen tunai pada awal Juni 2026 dapat menjadi sentimen positif bagi pasar saham, namun efeknya tidak cukup besar untuk menjadi faktor tunggal yang mengubah arah pasar. Terlebih lagi, awal Juni nanti juga bertepatan dengan pemberlakuan hasil rebalancing MSCI dan FTSE yang cukup sensitif bagi pasar.

"Faktor arus dana asing dan positioning institusi kemungkinan tetap lebih dominan daripada euforia dividen," kata dia, Rabu (27/5).

Senada, Budi memperkirakan dampak musim pembagian dividen pada awal Juni nanti tidak terlalu besar, karena pasar sedang menghadapi tekanan lain yaitu rebalancing MSCI-FTSE, pelemahan kurs rupiah, efek kebijakan suku bunga acuan, hingga ancaman keluarnya dana asing.

Dari situ, investor disarankan sebaiknya jangan asal beli saham pembagi dividen hanya karena masa cum date yang sudah dekat. "Harga saham biasanya berpotensi turun saat ex-date, minimal sebesar nilai dividen teoritis," tutur dia, Rabu (27/5).

Budi melanjutkan, strategi yang lebih aman bagi investor adalah masuk ke saham pembagi dividen sebelum periode cum date, dengan catatan sudah ada keyakinan terhadap fundamental dan likuiditas sahamnya.

Investor juga disarankan menghindari saham yang harganya naik tajam hanya karena euforia pembagian dividen tunai. "Jangan mengejar yield tinggi jika prospek bisnisnya sedang turun, karena itu bisa menjadi dividend trap," jelas Budi.

Di lain pihak, Rully menyebut, strategi terbaik yang bisa ditempuh investor bukanlah mengejar momentum cum date semata, melainkan masuk ke saham pilihan pada valuasi yang wajar sekaligus menghindari jebakan dividen.

Investor pun disarankan memegang saham dengan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten serta punya fundamental yang kuat.

Untuk trading, Harry menyarankan investor untuk membeli saham pembagi dividen incaran pada kurun waktu dua minggu hingga tujuh hari sebelum cum date. Pada momen ini, harga saham biasanya belum mengalami rally akibat euforia pengumuman resmi jadwal pembagian dividen tunai.

Setelah itu, investor dapat menjual saham pada hari cum date tiba atau sesi sore menjelang penutupan pasar. Opsi lainnya adalah langsung menjual saham pada pembukaan sesi pertama di hari ex-date.

Dari sekian emiten yang akan cum date dividen dalam waktu dekat, Harry menyarankan investor untuk buy on weakness saham PGAS sebelum 4 Juni 2026.

Sementara menurut Budi, saham-saham seperti INTP, JSMR, PGAS, CPIN dapat diakumulasi saat harga melemah. Bagi investor yang hendak trading atau lebih spekulatif, saham TPMA, STAA, GJTL, dan SMAR dapat menjadi opsi. Namun, investor harus lebih hati-hati pada saham dengan imbal hasil dividen kecil, likuiditas tipis atau mengalami kenaikan harga hanya karena efek cum date.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×