kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.904   -192,54   -3,78%
  • KOMPAS100 629   -27,90   -4,25%
  • LQ45 497   -20,62   -3,98%
  • ISSI 164   -6,52   -3,83%
  • IDX30 280   -11,04   -3,79%
  • IDXHIDIV20 378   -13,42   -3,43%
  • IDX80 73   -3,14   -4,14%
  • IDXV30 105   -3,49   -3,20%
  • IDXQ30 94   -3,48   -3,57%

Rupiah Masih Tertekan Inflasi dan Geopolitik, Simak Proyeksi Besok Rabu (4/11)


Selasa, 03 November 2026 / 16:50 WIB
Rupiah Masih Tertekan Inflasi dan Geopolitik, Simak Proyeksi Besok Rabu (4/11)
ILUSTRASI. Rupiah tertekan inflasi pangan, tantangan neraca perdagangan, dan geopolitik global. Simak proyeksi rupiah pada Rabu (4/11/2026). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi sejumlah risiko yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Tekanan inflasi pangan, dinamika neraca perdagangan, hingga ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap mata uang Garuda.

Melansir Bloomberg, Selasa (3/11/2026), rupiah spot ditutup melemah tipis 0,02% ke level Rp 18.160 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 18.156 per dolar AS.

Berbeda dengan rupiah spot, nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) justru mencatatkan penguatan. Rupiah Jisdor pada Selasa (3/11/2026) menguat 0,07% secara harian menjadi Rp 18.148 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 18.161 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen domestik yang perlu diperhatikan pelaku pasar adalah kenaikan inflasi pangan.

Baca Juga: Harga Emas Global Tertekan, Pelemahan Rupiah Bisa Topang ETF Emas

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 3,23% secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.

Ibrahim mencatat, inflasi pangan pada Oktober 2026 mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi gangguan pasokan akibat fenomena El Niño.

Meski inflasi umum sedikit melandai dan masih berada dalam sasaran Bank Indonesia (BI), kenaikan harga pangan mengindikasikan tekanan terhadap biaya hidup masyarakat masih berlangsung.

Selain inflasi, perkembangan neraca perdagangan Indonesia juga menjadi perhatian. Pada September 2026, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$ 3,36 miliar, lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Namun, pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor dinilai tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi ketahanan surplus perdagangan ke depan.

“Artinya, nilai barang yang masuk ke Indonesia meningkat lebih besar dibandingkan nilai barang yang dijual ke luar negeri,” ujar Ibrahim, Selasa (3/11/2026).

Dari pasar global, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang. Upaya komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik masih berlangsung, tetapi belum menunjukkan terobosan yang berarti.

Baca Juga: Kredibilitas Kebijakan Domestik Jadi Sorotan di Tengah Kenaikan CDS

Sementara itu, rencana pertemuan delegasi Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10–11 November mendatang untuk membahas upaya mengakhiri perang juga menjadi salah satu perkembangan yang dicermati investor.

Ibrahim menilai, kombinasi berbagai sentimen tersebut masih berpotensi membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan ekonomi domestik sekaligus dinamika geopolitik internasional.

Untuk perdagangan Rabu (4/11/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak dalam tekanan. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada rentang Rp 18.160 hingga Rp 18.210 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×