Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan depan. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan gejolak pasar saham global menjadi sejumlah sentimen eksternal yang berpotensi membatasi pergerakan mata uang Garuda.
Melansir Bloomberg, rupiah spot ditutup di level Rp 18.089 per dolar AS pada Jumat (6/11/2026). Posisi ini melemah tipis 0,04% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 18.082 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 18.130 per dolar AS. Rupiah melemah 0,20% dibandingkan kurs sebelumnya yang berada di Rp 18.094 per dolar AS pada Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: Emas Global Perkasa pasca-Pemilu AS, Harga Emas Antam Berpotensi Lanjutkan Reli
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor di pasar global. Meski demikian, pasokan valuta asing dari dalam negeri turut membantu menahan pelemahan mata uang Garuda.
"Pelemahannya kecil karena ada dua tarik-menarik. Dolar menguat terhadap mata uang Asia, saham AI global rontok, dan pelaku pasar menunggu data tenaga kerja AS. Namun, ada pemasukan valas dari pinjaman luar negeri pemerintah, pajak, dan langkah stabilisasi BI," ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
Sutopo bilang, koreksi rupiah pada akhir pekan juga perlu dilihat setelah mata uang Garuda mencatatkan penguatan cukup tajam pada perdagangan Kamis. Dengan demikian, pelemahan terakhir belum sepenuhnya mencerminkan perubahan sentimen terhadap rupiah.
Ke depan, arah rupiah akan ditentukan oleh perkembangan ekonomi AS dan respons investor terhadap berbagai risiko global. Sutopo menyebut, data ketenagakerjaan AS menjadi salah satu indikator penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
"Jika data tenaga kerja AS kuat, dolar berpotensi naik dan rupiah tertekan. Sebaliknya, jika datanya lemah, rupiah bisa menguat. Selain itu, kondisi pasar saham global, harga minyak, serta kebijakan dalam negeri seperti aturan baru DHE SDA dan stabilisasi BI juga akan memengaruhi pergerakan rupiah," jelasnya.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Sutopo memperkirakan rupiah pada Senin (9/11/2026) bergerak dalam rentang Rp 18.020-Rp 18.180 per dolar AS, dengan kecenderungan datar hingga sedikit melemah. Area Rp 18.000 diperkirakan menjadi level penopang, sedangkan Rp 18.200 menjadi batas atas yang perlu diwaspadai.
Baca Juga: Harga Emas Antam Minggu (8/11/2026) Stagnan, Cek Daftar Lengkapnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
