Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Usai mengalami tekanan sepanjang 2025, kinerja keuangan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berpeluang membaik pada 2026 seiring upaya transformasi bisnis emiten tersebut.
Sebagaimana diketahui, TOBA mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar US$ 365,86 juta pada 2025 atau turun 5,16% year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni US$ 385,78 juta.
Bila ditelusuri, TOBA mengalami penurunan pendapatan segmen penjualan batubara sebesar 45,99% yoy dari US$ 360,12 juta pada 2024 menjadi US$ 194,50 juta pada 2025. Di sisi lain, pendapatan TOBA dari pengelolaan limbah melonjak 1.084,60% yoy dari US$ 13,12 juta pada 2024 menjadi US$ 155,42 juta pada 2025.
Pendapatan TOBA dari penjualan dan sewa kendaraan listrik juga naik 34,62% yoy dari US$ 6,47 juta pada 2024 menjadi US$ 8,71 juta pada 2025.
Baca Juga: Kontribusi Bisnis Batubara Menyusut, TBS Energi (TOBA) Fokus Perluas Bisnis Hijau
Selain itu, TOBA turut mencetak kenaikan pendapatan berupa penjualan tandan buah segar (TBS), inti sawit, dan minyak sawit mentah sebesar 18,67% yoy dari US$ 6 juta pada 2024 menjadi US$ 7,12 juta pada 2025. Adapun pendapatan jasa TOBA naik 40,80% yoy dari US$ 73.570 pada 2024 menjadi US$ 103.589 pada 2025.
Hingga akhir 2025, TOBA mengalami rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 162,27 juta. Hasil ini dipengaruhi oleh rugi atas divestasi entitas anak TOBA sebesar US$ 96,87 juta pada 2025. Rugi selisih kurs TOBA juga membengkak 1.296,81% yoy dari US$ 375.403 pada 2024 menjadi US$ 5,24 juta.
Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktarina, menyampaikan, tahun 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi bisnis hijau oleh TOBA. Emiten ini telah menuntaskan fase transformasi dan kini fokus pada penguatan operasional di seluruh pilar hijau.
"Dengan kas yang kuat, struktur keuangan yang sehat, dan arah strategi yang jelas, TBS siap melangkah ke fase optimalisasi profitabilitas dan sinergi antar pilar pada 2026,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham TBS Energi Utama (TOBA) yang Buyback 825 Juta Saham
Juli juga menegaskan bahwa ketahanan kinerja TOBA tetap terjaga di tengah fluktuasi harga batubara. EBITDA TOBA diklaim tetap kuat, terutama berkat kontribusi segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik. "Ini menunjukkan bahwa portofolio hijau TBS tidak hanya tumbuh, tetapi juga semakin matang secara operasional,” imbuh dia.
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, TOBA berpeluang kembali mencetak laba bersih karena tidak ada kerugian one-off dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara seperti tahun lalu.
"Kontribusi segmen non-batubara dapat naik secara proporsional seiring menyusutnya pendapatan fosil dan mulai beroperasinya aset hijau hasil akuisisi," kata dia, Selasa (10/3/2026).
Baca Juga: Obligasi TBS Energi Utama (TOBA) Senilai Rp 425 Miliar Jatuh Tempo pada Maret 2026
Wafi menambahkan, TOBA diperkirakan akan kembali agresif melakukan ekspansi dengan mengandalkan dana hasil divestasi. Hanya saja, ia memperkirakan segmen bisnis hijau yang sedang dalam fase transisi belum sepenuhnya bisa menggantikan skala arus kas batubara.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyatakan, TOBA punya modal berharga untuk kembali mengangkat kinerjanya pada tahun ini. Salah satunya adalah ekspansi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Batam yang berkapasitss 46 megawatt peak (MWp) dengan target operasional 2026. Ada potensi listrik dari PLTS ini bisa diekspor ke Singapura.
Selain itu, sinergi antara TOBA melalui merek Electrum dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan semakin memperkuat rantai pasok bisnis emiten ini di segmen sepeda motor listrik. Belum lagi, TOBA makin mematangkan bisnis pengelolaan limbah usai akuisisi Sembcorp Environment asal Singapura yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment.
"Berbagai lini bisnis baru tersebut diharapkan meningkatkan margin dan menjadi sumber pendapatan utama yang mendorong perusahaan mencapai profitabilitas yang lebih baik," ucap dia, Selasa (10/3/2026).
Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham TOBA dengan target harga di level Rp 760 per saham.
Di lain pihak, Wafi merekomendasikan beli saham TOBA dengan target harga di level Rp 660 per saham.
Baca Juga: TBS Energi Utama (TOBA) Buyback 825,74 Ribu Saham, Ini Rekomendasi Analis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













