kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Rupiah Diperkirakan Melemah pada Perdagangan Awal Pekan, Senin (31/7)


Minggu, 30 Juli 2023 / 14:03 WIB
Rupiah Diperkirakan Melemah pada Perdagangan Awal Pekan, Senin (31/7)
ILUSTRASI. Uang Rupiah. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (28/7). Pelemahan rupiah diperkirakan bakal berlanjut pada perdagangan Senin (31/7).

Pengamat Mata Uang Lukman Leong melihat, pergerakan rupiah berpotensi kembali melemah di awal pekan. Investor akan menghadapi data inflasi Indonesia bulan Juli yang diperkirakan akan kembali melamban.

Data inflasi Indonesia bakal dirilis pada hari Selasa (1/8). Hal ini akan memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI), sehingga membuat divergensi semakin besar.

“Namun ada kabar apabila BI sedang aktif mengintervensi, sehingga pelemahan akan terbatas,” ucap Lukman kepada Kontan.co.id, Jumat (28/7).

Baca Juga: Simak Sentimen yang Menyeret Pergerakan Rupiah di Pekan Ini

Lukman mengatakan, rupiah pada perdagangan akhir pekan ini tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang meluas setelah data ekonomi AS yakni PDB dan klaim pengangguran menunjukkan hasil lebih kuat. Data tersebut meningkatkan prospek tingkat suku bunga the Fed.

Walaupun pasar masih memperkirakan Bank Sentral AS sudah tidak akan kembali menaikkan suku bunga, namun dengan data yang kuat ini The Fed bisa mempertahankan suku bunga yang tinggi lebih lama.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi sepakat bahwa data ekonomi AS yang lebih kuat meningkatkan kemungkinan bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga lebih lanjut, setelah melakukannya sekali lagi pada hari Rabu (26/7).

“Ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari yang diharapkan pada kuartal kedua, menunjukkan kemungkinan resesi semakin kecil pada paruh kedua tahun ini,” ungkap Ibrahim dalam riset harian, Jumat (28/7).

Ibrahim mengamati, pedagang telah berubah sedikit waspada pada hari Jumat menjelang rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi bulan Juni sebagai pengukur inflasi favorit Fed. Tetapi, pada saat pertemuan Fed berikutnya pada bulan September, pembuat kebijakan juga akan memiliki dua laporan CPI baru dan dua laporan pekerjaan baru sebagai pertimbangan lebih lanjut.

Dari domestik, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan insentif terhadap eksportir yang menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) di sistem keuangan Indonesia. Hal ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) 36 tahun 2023 tentang DHE yang baru diterbitkan.

Dalam PP 36 tahun 2023 tentang DHE tersebut terdapat fasilitas tambahan yaitu insentif perpajakan dan pemberian status eksportir bereputasi baik dan insentif lain yang dapat dikeluarkan oleh kementerian/lembaga lain. Kemenkeu juga memberikan insentif fiskal.

Baca Juga: Bank Indonesia Menyiapkan 7 Instrumen Untuk Menampung DHE SDA

“Penempatan DHE Sumber daya Alam di sistem keuangan Indonesia bisa semakin memperkuat stabilitas sistem keuangan Indonesia dengan adanya penempatan DHE,” jelas Ibrahim.

Menurut Ibrahim, mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp. 15.080- Rp. 15.150 pada perdagangan Senin, (31/7). Sedangkan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 15.000 per dolar AS – Rp 15.200 per dolar AS.

Dalam penutupan pasar di hari Jumat (28/7), kurs rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 15.105 per dolar AS. Selama seminggu, rupiah melemah sekitar 0,52% dan secara harian melemah 0,70%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×