Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mengawali kuartal II, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dibawah tekanan. Mata uang Garuda malah mencatatkan rekor terburuk baru pada akhir perdagangan Kamis (3/4).
Pada perdagangan Kamis (3/4) hari ini, rupiah dibuka di level Rp 16.771 dan ditutup melemah di Rp 16.745, naik 0,2%.
Namun kejatuhan mata uang Garuda ini terjadi beriringan dengan penurunan dolar AS yang tertekan pasca pengumuman kebijakan tarif AS kepada mitra dagangnya. Mengutip Investing.com pukul 17.36 wib, index dolar AS tercatat melemah 1,82% ke level 101,78.
Baca Juga: Rupiah Tumbang ke Rp 16.771 Per Dolar AS di Pembukaan Hari Ini (3/4), Rekor Terburuk
Sentimen Eksternal
Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang menilai pelemahan rupiah terjadi akibat kekhawatiran global, salah satunya terkait tarif impor AS.
“(Kebijakan tarif) berpotensi menghambat perdagangan dan cenderung menyebabkan perlambatan di global sehingga memberikan tekanan pada mata uang emerging market,” jelas Hosianna kepada Kontan.co.id pekan lalu.
Pada Rabu (3/4) kemarin, Trump mengumumkan penetapan tarif dasar 10% untuk seluruh impor, dengan tarif tambahan yang lebih tinggi bagi negara-negara dengan surplus perdagangan besar seperti China (54%), Vietnam (46%), Taiwan (32%), Jepang (24%), Uni Eropa (20%), dan Indonesia (32%).
Kebijakan tarif Trump ini menjadi salah satu katalis yang menentukan arah perdagangan global dan mempengaruhi nilai-nilai aset, termasuk mata uang, dan ekonomi global secara keseluruhan.
Baca Juga: Mata Uang Rupiah Semakin Tertekan Akibat Tarif Terbaru Trump
Terbukti, tidak hanya indeks dolas AS yang melemah, sejumlah mata uang emerging market juga turut jatuh.
Hosianna menyebut data penggajian tenaga kerja non pertanian (Non-Farm Payroll) AS menjadi pantauan selanjutnya untuk mengukur ketahanan rupiah dari sentimen eksternal. Pelemahan ekonomi AS dapat menambah kekhawatiran dan menekan pelaku pasar beralih dari aset berisiko seperti rupiah.
Tekanan risk-off dari emerging market juga muncul akibat situasi geopolitik global yang belum stabil. Konflik di Timur Tengah, ultimatum AS terhadap Iran, dan potensi memanasnya konflik Rusia dan Ukraina akan turut menekan nilai rupiah pada kuartal II mendatang.
Sentimen Internal
Ketidakpastian global pada akhirnya akan turut mempengaruhi pasar saham domestik. Rupiah perlu mengantisipasi outflow di pasar saham domestik. Menurut Hosianna, peningkatan tipis rupiah di hari terakhir perdagangan kuartal I kemarin boleh terjadi akibat inflow menjelang libur lebaran.
BI mencatatkan transaksi asing beli neto sebesar Rp 1,93 triliun selama 24–26 Maret 2025. Angka itu menunjukkan peningkatan inflow asing dibandingkan pekan sebelumnya, yakni transaksi asing jual neto sebesar Rp 4,78 triliun pada 17--20 Maret 2025.
Ekonom Senior, KB Kalbe Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai ada kekecewaan pasca pengumuman pengurus Badan Investasi Danantara pada Senin (24/3) lalu, yang mendorong anjloknya IHSG dan pelemahan rupiah sehari setelahnya.
Di tengah krisis kepercayaan investor yang meningkat, Fikri menilai pemerintah perlu memperbaiki komunikasi publik terkait isu-isu fundamental, baik dalam bidang ekonomi maupun non ekonomi.
“Hal yang perlu dicermati salah satunya adalah bagaimana meyakinkan investor berdasarkan cara komunikasi yang baik,” ungkap Fikri kepada Kontan.co.id pekan lalu.
Baca Juga: Tanpa Intervensi BI, Rupiah Bisa Terperosok Lagi di Kuartal II
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pasar menaruh harapan pada rencana pemerintah meluruskan persepsi pasar tentang kebijakan domestik usai lebaran ini. Pasalnya, pada momentum anjloknya rupiah sebelumnya, sentimen domestik menjadi salah satu katalis negatif outflow Indonesia, yang mana ujungnya turut melemahkan rupiah.
Ia menyebutkan pentingnya intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menopang rupiah selama kuartal II. “Tanpa intervensi, (rupiah) sangat berpeluang menembus ATH di atas Rp 17.000,” sebut Lukman kepada Kontan.co.id pekan lalu.
Di tengah tekanan dari internal dan eksternal, intervensi BI sangat dibutuhkan untuk mengerem pergerakan rupiah yang liar selama masa libur. Tanpa intervensi BI, rupiah telah bergerak di rentang Rp 16.500 – Rp 16.800 di pasar spot.Hosianna memproyeksi BI akan tetap melakukan intervensi untuk menahan rupiah di rentang Rp 16.600 – Rp 16.800.
Fikri memproyeksikan rupiah bisa mendekati Rp 16.200 di akhir kuartal II, hanya jika sentimen domestik mereda. Sementara itu, sejalan dengan Lukman, Hosianna menilai rupiah masih akan cenderung tertekan dengan potensi mendekati Rp 17.000 selama kuartal II.
Asal tahu saja, rupiah menutup kuartal I 2025 dengan penguatan tipis. Di hari terakhir perdagangan, pada Kamis (27/3) lalu, rupiah ditutup pada level Rp 16.566 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat tipis 0,13% secara harian.
Sebelumnya pada Selasa (25/3), rupiah sempat terperosok di level Rp 16.641, mendekati level terendah saat krisis moneter 1998 di Rp 16.650.
Selanjutnya: Indonesia Berpotensi Masuk Perang Dagang Global, Ini Dampaknya ke Rupiah
Menarik Dibaca: 9 Rekomendasi Buah Penurun Gula Darah yang Tinggi dan Terbukti Efektif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News