kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.707   26,00   0,15%
  • IDX 6.461   -73,54   -1,13%
  • KOMPAS100 856   -10,81   -1,25%
  • LQ45 651   -8,28   -1,26%
  • ISSI 223   -1,77   -0,79%
  • IDX30 361   -4,82   -1,31%
  • IDXHIDIV20 451   -6,99   -1,53%
  • IDX80 98   -1,17   -1,18%
  • IDXV30 124   -1,89   -1,50%
  • IDXQ30 117   -1,35   -1,15%

Rupiah Berpeluang Melemah Rabu (16/9), Dibayangi Keputusan The Fed & Minyak


Selasa, 15 September 2026 / 16:38 WIB
Rupiah Berpeluang Melemah Rabu (16/9), Dibayangi Keputusan The Fed & Minyak
ILUSTRASI. Rupiah Kembali Melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang rupiah diperkirakan masih cenderung tertekan pada perdagangan Rabu (16/9) akibat bayang-bayang keputusan suku bunga Federal Reserve serta tingginya harga minyak dunia.

Melansir data Bloomberg pada Selasa (15/9), mata uang Garuda ditutup melemah 25 poin atau 0,14% ke level Rp 17.694 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.687 per dolar AS pada Selasa (15/9), atau melemah 0,29% dibandingkan hari sebelumnya, yaitu Rp 17.635 per dolar AS.

Baca Juga: Indonesia Siap Buka Bursa Komoditas Baru ICOMEX pada 4 Januari 2027

Pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa (15/9) utamanya digerakkan oleh kombinasi penguatan indeks dolar AS, kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus area 5%, serta tingginya harga minyak mentah Brent di sekitar US$ 107 per barel. Selain itu, sikap defensif investor menjelang pengumuman suku bunga The Fed turut menaikkan premi risiko atas aset negara berkembang.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa sentimen pergerakan rupiah pada Rabu (16/9) akan terutama ditentukan oleh keputusan The Fed dan nada komunikasi pasca-rapat. Pasar saat ini menilai peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin sangat tinggi, di tengah indeks dolar yang mendekati level tertinggi dua pekan.

Tekanan bagi Indonesia makin diperberat oleh posisi sebagai pengimpor bersih minyak (net oil importer). Syafruddin menyoroti bahwa harga minyak Brent yang bertahan tinggi menaikkan kebutuhan dolar untuk impor energi, memicu tekanan pada transaksi berjalan, serta meningkatkan risiko inflasi.

Dari dalam negeri, penyangga ekonomi seperti cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar, BI-Rate di level 5,75%, dan inflasi sebesar 3,19% masih membantu menahan tekanan. Namun, pergerakan arus modal asing tetap menjadi variabel penting yang harus diwaspadai pasar.

"Arus nonresiden tetap perlu dicermati setelah transaksi SRBI mencatat net sell Rp2,96 triliun pada 7–10 September," ujar Syafruddin kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Untuk perdagangan Rabu (16/9), Syafruddin memproyeksikan kisaran dasar rupiah berada di Rp 17.640 hingga Rp 17.760 per dolar AS dengan bias cenderung melemah.

Jika keputusan The Fed lebih hawkish atau harga minyak melonjak mendekati US$ 110 per barel, rupiah berisiko menguji level Rp 17.780 hingga Rp 17.820 per dolar AS.

"Karena itu, arah rupiah besok akan bergantung pada apakah shock Fed dan minyak lebih kuat daripada kapasitas stabilisasi Bank Indonesia," tutup Syafruddin.

Baca Juga: Karya Pacific (IATA) Siap Lunasi Surat Utang Rp 199,12 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×