kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.708   27,00   0,15%
  • IDX 6.485   -49,77   -0,76%
  • KOMPAS100 859   -7,26   -0,84%
  • LQ45 653   -5,97   -0,91%
  • ISSI 224   -0,79   -0,35%
  • IDX30 363   -3,52   -0,96%
  • IDXHIDIV20 453   -5,02   -1,10%
  • IDX80 98   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,09   -0,87%
  • IDXQ30 117   -1,04   -0,89%

Saham Bayan Resources (BYAN) Anjlok Setelah Mengumumkan Force Majeure


Selasa, 15 September 2026 / 12:19 WIB
Saham Bayan Resources (BYAN) Anjlok Setelah Mengumumkan Force Majeure
ILUSTRASI. Saham Bayan Resources (BYAN) terus tertekan usai mengumumkan kondisi kahar alias force majeure dengan anjlok 5,86% ke level Rp 10.450 pada sesi I (Dok/BYAN)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengumumkan kondisi kahar alias force majeure atas kewajiban pemenuhan pasokan batubara kepada sejumlah pelanggan akibat persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang belum terbit. 

Di tengah pengumuman tersebut, saham BYAN anjlok 5,86% ke level Rp 10.450 pada perdagangan sesi I, Selasa (15/9/2026). Adapun secara tahun berjalan, BYAN juga turun 33,44%.

Dalam pemberitaan Kontan sebelumnya, kondisi kahar terjadi pada 11 September 2026 dan melibatkan tiga anak usaha BYAN, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, serta PT Fajar Sakti Prima. 

Baca Juga: IHSG Turun 0,76% ke 6.484 pada Sesi I Selasa (15/9), ESSA, BBNI, ICBP Top Losers LQ45

Ketiga anak usaha tersebut menyampaikan pemberitahuan kondisi kahar kepada pelanggan terkait kewajiban pemenuhan pasokan batubara berdasarkan perjanjian penyediaan batubara atau Coal Supply Agreement. 

Direktur Bayan Resources Low Yi Ngo menjelaskan, kondisi kahar tersebut disebabkan persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya 2026 belum diterbitkan kepada ketiga anak usaha BYAN.

“Mengingat ketetapan persetujuan RKAB diperlukan agar anak-anak perusahaan BYAN dapat menjalankan kegiatan produksi batubara-nya secara sah, kondisi saat ini mempengaruhi kemampuan Perseroan dan anak-anak perusahaannya,” tulis Low dalam keterbukaan informasi, Senin (14/9/).

Dengan belum diterbitkannya persetujuan perubahan RKAB, kondisi tersebut berdampak cukup material terhadap kelangsungan usaha BYAN. Low menyatakan pernyataan force majeure ini diharapkan meminimalkan risiko dan konsekuensi bagi BYAN serta anak usaha.  

 

Low bilang, persetujuan perubahan RKAB telah diajukan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Namun, hingga keterbukaan informasi ini dirilis, persetujuan tersebut belum diterbitkan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×