Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah berpeluang melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir tahun.
Sekadar mengingatkan, rupiah spot ditutup menguat 0,29% dibandingkan hari sebelumnya ke level Rp 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (28/8/2026).
Sejalan, rupiah pada kurs Jisdor juga ditutup mengalami penguatan 0,33% secara harian menjadi Rp 17.703 per dolar AS.
Menurut Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke kisaran 98,89-99,00 menjadi salah satu katalis bagi mata uang Asia. Kondisi tersebut mengurangi tekanan apresiasi greenback terhadap mata uang regional.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,06% ke 6.518 pada Jumat (28/8), ISAT, MBMA, AMRT Top Losers LQ45
Selain itu, dorongan bond buyback dari Departemen Keuangan AS turut meredam lonjakan yield US Treasury. Kondisi ini kemudian mendorong arus repatriasi modal kembali ke pasar negara berkembang (emerging markets) di Asia, termasuk Indonesia.
"Penguatan serempak mata uang Asia termasuk rupiah terhadap dolar AS belakangan ini dipicu oleh kombinasi faktor likuiditas global dan perbaikan sentimen risiko di kawasan," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).
Di dalam negeri, langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI) turut membantu menjaga pergerakan rupiah.
Sementara itu, koordinasi intervensi mata uang yang melibatkan otoritas moneter di kawasan, termasuk Bank of Japan (BoJ), dinilai turut membatasi spekulasi terhadap pelemahan mata uang lokal.
Dengan dukungan tersebut, rupiah kini kembali bergerak di bawah level psikologis Rp 17.700 per dolar AS.
Wahyu melihat mata uang Asia berpeluang melanjutkan penguatan secara bertahap hingga akhir tahun. Prospek tersebut ditopang oleh penyempitan yield differential dengan AS serta membaiknya neraca transaksi berjalan negara-negara di kawasan.
Baca Juga: Kondisi Fiskal AS Disorot, Prospek Bitcoin Menarik Dicermati
Namun, penguatan mata uang Asia diperkirakan tidak akan berlangsung mulus. Dinamika tarif perdagangan global dan perlambatan ekonomi negara maju masih berpotensi membuat pergerakan valas Asia volatil.
"Apresiasi mata uang Asia tetap akan diwarnai volatilitas (choppy upside) akibat dinamika tarif perdagangan global dan perlambatan ekonomi negara maju," jelasnya.
Untuk rupiah, Wahyu memproyeksikan bergerak stabil dengan kecenderungan menguji level yang lebih rendah hingga akhir tahun 2026.
Ia memperkirakan rupiah berada di rentang Rp 17.350-Rp 17.650 per dolar AS, dengan level resistance teknikal terdekat di Rp17.850 per dolar AS.
Baca Juga: Harga Batubara Menguat 6,9% dalam Sepekan, Apa Faktor Pendorongnya?
Dengan prospek tersebut, rupiah dinilai masih menarik bagi investor yang memburu imbal hasil (carry trade/yield seeker), terutama melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Di sisi lain, indeks dolar AS juga diperkirakan melanjutkan tren pelemahan moderat hingga akhir tahun. Wahyu memperkirakan DXY bergerak dalam kisaran 96,50-98,50 hingga akhir 2026.
Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh intervensi likuiditas melalui kebijakan bond buyback Departemen Keuangan AS, meredanya yield US Treasury tenor 10 tahun, serta berkurangnya permintaan dolar AS sebagai instrumen yield hunting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














