kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Kondisi Fiskal AS Disorot, Prospek Bitcoin Menarik Dicermati


Jumat, 28 Agustus 2026 / 15:57 WIB
Kondisi Fiskal AS Disorot, Prospek Bitcoin Menarik Dicermati
ILUSTRASI. Bitcoin (BTC) diproyeksi menjadi salah satu portofolio investasi yang menarik dicermati di tengah kondisi fiskal AS yang jadi sorotan. (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bitcoin (BTC) diproyeksi menjadi salah satu portofolio investasi yang menarik dicermati di tengah kondisi fiskal hingga rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan buyback US Treasury. Mengutip Coin Market Cap Jumat (28/8/2026) pukul 15.25 WIB, harga Bitcoin di level 79.799, naik 3,64% dalam sepekan dan telah menguat 26,11% dalam sebulan. 

Andri Fauzan, Analis Reku mengatakan, prospek Bitcoin di tengah kekhawatiran fiskal AS dan rencana buyback US Treasury terlihat sangat mendukung. Ia menyoroti utang AS yang sudah menembus US$ 40 triliun, defisit tetap tinggi, dan kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli dolar semakin menguat.

Kebijakan Treasury yang menggandakan buyback obligasi jangka panjang menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi (efektif September) ditafsirkan pasar sebagai sinyal likuiditas longgar dan upaya menekan yield. 

Baca Juga: Minat Investor terhadap SR025 Tetap Positif, tapi Penjualan Berpotensi Lebih Selektif

“Ini memicu debasement trade di mana investor beralih ke aset langka seperti Bitcoin dan emas,” ujar Andri kepada Kontan, Jumat (28/8/2026). 

Andri melihat reli Bitcoin dari sekitar US$ 64.000 ke atas US$ 80.000 dalam waktu singkat sebagian besar didorong oleh faktor tersebut. Selama kekhawatiran fiskal berlanjut dan buyback berjalan, Ia menilai Bitcoin tetap memiliki angin belakang struktural yang kuat. 

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian melihat kebijakan Treasury buyback menjadi salah satu faktor yang turut mendukung perubahan sentimen terhadap Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir. Setelah pengumuman kenaikan nilai buyback pada 19 Agustus, yield obligasi jangka panjang AS sempat turun dan dolar AS melemah.

Kondisi ini turut menggoda selera pasar terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin, karena investor mulai melihat peluang di tengah perubahan ekspektasi dan sentimen terhadap pasar obligasi dan dolar AS. Namun, pengaruhnya terhadap Bitcoin juga masih perlu dilihat bersama faktor lain, termasuk arah kebijakan moneter The Fed, kondisi likuiditas, dan dinamika pasar obligasi. 

Baca Juga: BEI Uji Coba Penghapusan Batas Bawah Saham Rp 50, Ini Hasilnya

Aloysia menilai sentimen Bitcoin saat ini terutama dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter AS, khususnya sinyal The Fed terkait suku bunga dan inflasi. Selain itu, arus dana ke ETF spot Bitcoin, pergerakan dolar AS dan kondisi likuiditas global juga menjadi faktor penting dalam melihat permintaan terhadap Bitcoin.

Di sisi pasar, kenaikan dalam beberapa hari terakhir turut dipengaruhi oleh short squeeze, sehingga posisi leverage dan potensi aksi profit taking juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan volatilitas. 

“Dengan demikian, pergerakan Bitcoin tetap perlu dilihat dari kombinasi faktor makro, arus dana, dan kondisi pasar, bukan dari satu sentimen saja,” terang Aloysia.

Adapun terkait strategi investasi, Aloysia mengatakan, ketika sentimen pasar berada pada optimisme yang tinggi dan positif, disiplin manajemen risiko menjadi semakin penting. Investor sebaiknya tidak semata mengejar harga atau berusaha menebak titik tertinggi pasar.

Investor sebaiknya menyesuaikan ukuran posisi dan batas risiko dengan profil masing-masing. Bagi investor yang tetap ingin memiliki Bitcoin di tengah momentum positif, tetapi masih mempertimbangkan kondisi makroekonomi dan volatilitas pasar, metode Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu pilihan. Dengan pendekatan ini, pembelian dilakukan secara rutin dan berkala sehingga investor tidak perlu mengambil posisi sekaligus ketika harga pasar masih relatif di atas. 

“Yang terpenting, keputusan transaksi tidak didorong oleh euforia pasar, melainkan berdasarkan pemahaman terhadap faktor yang menggerakkan pasar dan hasil Do Your Own Research (DYOR),” ucap Aloysia. 

Sementara Andri melihat di tengah Fear & Greed Index yang sudah masuk fase extreme greed (sekitar 70–80, tertinggi sejak Oktober 2025), menyarankan investor menghindari Fear of Missing Out (FOMO). Strategi yang bisa diterapkan adalah tidak menambah posisi agresif di level saat ini dan justru menyiapkan dana untuk akumulasi bertahap jika terjadi koreksi 10% – 15%. 

“Ambil sebagian keuntungan di level yang sudah naik signifikan, pertahankan posisi inti jangka menengah-panjang, dan gunakan stop-loss mental yang jelas. Extreme greed sering mendahului konsolidasi atau pullback, jadi disiplin manajemen risiko lebih penting daripada mengejar momentum,” jelas Andri. 

Andri memproyeksikan harga Bitcoin hingga akhir tahun di rentang base case US$ 95.000 –US$ 110.000. Jika arus ETF tetap kuat, buyback Treasury berjalan lancar, dan regulasi memberikan kejelasan tambahan, peluang tembus US$120.000 tetap terbuka. 

“Sebaliknya, jika data makro memburuk atau sentimen berbalik tajam dari extreme greed, koreksi ke US$ 70.000 – US$ 80.000 masih mungkin terjadi sebelum melanjutkan tren naik,” pungkas Andri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×