kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Harga Batubara Naik 6,29%, Ini Prediksi hingga Akhir Tahun


Jumat, 28 Agustus 2026 / 17:27 WIB
Harga Batubara Naik 6,29%, Ini Prediksi hingga Akhir Tahun
ILUSTRASI. Harga batubara kembali mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (28/8). (KONTAN/Muradi)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara kembali mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Di tengah kenaikan tersebut, prospek harga komoditas energi ini hingga penghujung tahun masih dibayangi volatilitas akibat potensi gangguan pasokan dan dinamika geopolitik global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (28/8/2026) pukul 17.15 WIB, harga batubara berada di level US$ 139,50 per ton, naik 6,29% secara harian. Dalam sepekan, harga batubara telah menguat 6,90%, sedangkan secara bulanan naik 7,10%.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga batubara masih berpeluang menguat hingga akhir tahun. Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah risiko gangguan produksi akibat cuaca di sejumlah negara produsen.

"Kalau saya lihat bahwa harga minyak mentah sama batu bara, ini kemungkinan besar sampai akhir tahun ini masih akan terus mengalami kenaikan. Bukan saja masalah geopolitik, tapi masalah kondisi teknis di lapangan, terutama di Tiongkok yang memasuki musim hujan," ujar Ibrahim kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).

Baca Juga: Tarik-Menarik Dolar dan Risiko Domestik, Cek Prospek Rupiah Pekan Depan

Menurutnya, hujan lebat dan banjir dapat mengganggu aktivitas pertambangan di China dan India. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan domestik sehingga kebutuhan batubara dari pasar internasional meningkat.

"Kalau di India, kemudian di Eropa, Amerika, di Tiongkok, batu bara itu ke bawah, ke tanah, hampir 20 meter itu dibikin terowongan. Nah sehingga risiko pada saat musim hujan itu lebih besar dan ditutup total karena pasti penuh dengan air," ujarnya.

Di tengah potensi pergerakan harga yang fluktuatif tersebut, Ibrahim mengatakan pelaku usaha yang melakukan transaksi fisik batubara perlu mengelola risiko perubahan harga melalui strategi lindung nilai atau hedging strategy.

"Kalau bagi investor sendiri kan, pasti mereka melakukan hedging. Pada saat mereka melakukan pembelian secara fisik, ya pasti para investor melakukan hedging juga," kata Ibrahim.

Menurutnya, hedging dapat dilakukan dengan mengambil posisi di pasar batubara ketika pelaku usaha melakukan transaksi fisik. Strategi tersebut bertujuan untuk mengantisipasi perubahan harga yang sulit diprediksi.

"Pada saat mereka melakukan transaksi di batu bara, mereka juga akan hedging di batu bara," ujarnya.

Baca Juga: Kembangkan Midstream, Eagle High (BWPT) Pacu Ekspansi Pabrik KCP

Ibrahim menilai strategi tersebut penting karena perubahan harga komoditas dapat berdampak terhadap nilai transaksi ekspor maupun impor yang besar.

"Karena hedging ini biasanya untuk menutupi kekurangan dana yang ada di pasar fisik pada saat mereka melakukan jual-beli. Karena fluktuatif harga ini tidak bisa ditentukan," jelasnya.

Selain batubara, strategi hedging juga dapat diterapkan pelaku usaha yang memiliki transaksi fisik minyak mentah untuk mengantisipasi perubahan harga di pasar.

Ibrahim memperkirakan harga batubara masih berpeluang mencapai sekitar US$ 170 per ton pada akhir tahun. Namun, pergerakan harga tetap perlu dicermati seiring perkembangan cuaca, pasokan, dan geopolitik global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×