kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Harga Minyak Mentah Naik, Ekonom: Tekanan ICP ke APBN Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun


Kamis, 09 Juli 2026 / 16:44 WIB
Harga Minyak Mentah Naik, Ekonom: Tekanan ICP ke APBN Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 7% ke level US$ 75,6 per barel akibat konflik Timur Tengah menuai sorotan. Kendati demikian, beban terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebenarnya sudah berat.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, dampak langsung terhadap kapasitas fiskal dalam negeri lebih ditentukan oleh pergerakan Indonesian Crude Price (ICP).

Sepanjang tahun berjalan, realisasi harga minyak mentah Indonesia tersebut terus menunjukkan tren yang berada di atas target asumsi makro pemerintah.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 18.128, Sentimen Domestik dan Eksternal Kompak Membebani

"Menurut saya, yang pertama perlu diluruskan adalah acuan harga minyaknya. Angka sekitar US$ 75 yang banyak dibahas merupakan harga WTI, sedangkan dampak terhadap APBN lebih ditentukan oleh Indonesian Crude Price atau ICP," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (9/7).

Lebih lanjut, Yusuf melihat lonjakan harga yang terjadi belakangan ini belum tentu menjadi tren penguatan jangka panjang hingga akhir tahun nanti. Pasar saat ini hanya sedang merespons premi risiko dari ketidakpastian geopolitik global yang meningkat di kawasan Timur Tengah.

"Sepanjang tahun ini ICP bahkan bergerak jauh di atas asumsi APBN yang ditetapkan di level US$70 per barel. Artinya, tekanan terhadap fiskal sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun, bukan baru muncul karena kenaikan harga beberapa hari terakhir," imbuh Yusuf.

Yusuf berpendapat, tingginya harga minyak dunia tidak serta-merta mempercepat program transisi energi terbarukan di dalam negeri secara otomatis. Hal ini disebabkan oleh tertahannya sinyal harga pasar ke konsumen akibat kebijakan proteksi harga melalui subsidi energi.

"Saya juga belum melihat ini sebagai tren kenaikan yang akan berlangsung terus hingga akhir tahun. Yang sedang dihargai pasar adalah premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik. Selama tidak terjadi gangguan pasokan yang nyata, harga minyak masih berpotensi turun ketika tensi mereda. Namun volatilitasnya kemungkinan tetap tinggi karena risiko di kawasan Timur Tengah masih besar," pungkasnya.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Rp 18.128, Pelemahan Konsumsi dan Timur Tengah Menekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×