kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.732   24,00   0,14%
  • IDX 6.496   -29,97   -0,46%
  • KOMPAS100 847   -2,25   -0,27%
  • LQ45 641   -3,60   -0,56%
  • ISSI 229   0,20   0,09%
  • IDX30 358   -2,13   -0,59%
  • IDXHIDIV20 435   -1,38   -0,32%
  • IDX80 97   -0,36   -0,37%
  • IDXV30 121   0,07   0,06%
  • IDXQ30 113   -0,68   -0,59%

Harga Minyak Mentah Naik, Ekonom: Tekanan ICP ke APBN Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun


Kamis, 09 Juli 2026 / 16:44 WIB
Harga Minyak Mentah Naik, Ekonom: Tekanan ICP ke APBN Sudah Terjadi Sejak Awal Tahun
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia hingga 7% ke level US$ 75,6 per barel akibat konflik Timur Tengah menuai sorotan. Kendati demikian, beban terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebenarnya sudah berat.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, dampak langsung terhadap kapasitas fiskal dalam negeri lebih ditentukan oleh pergerakan Indonesian Crude Price (ICP).

Sepanjang tahun berjalan, realisasi harga minyak mentah Indonesia tersebut terus menunjukkan tren yang berada di atas target asumsi makro pemerintah.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 18.128, Sentimen Domestik dan Eksternal Kompak Membebani

"Menurut saya, yang pertama perlu diluruskan adalah acuan harga minyaknya. Angka sekitar US$ 75 yang banyak dibahas merupakan harga WTI, sedangkan dampak terhadap APBN lebih ditentukan oleh Indonesian Crude Price atau ICP," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (9/7).

Lebih lanjut, Yusuf melihat lonjakan harga yang terjadi belakangan ini belum tentu menjadi tren penguatan jangka panjang hingga akhir tahun nanti. Pasar saat ini hanya sedang merespons premi risiko dari ketidakpastian geopolitik global yang meningkat di kawasan Timur Tengah.

"Sepanjang tahun ini ICP bahkan bergerak jauh di atas asumsi APBN yang ditetapkan di level US$70 per barel. Artinya, tekanan terhadap fiskal sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun, bukan baru muncul karena kenaikan harga beberapa hari terakhir," imbuh Yusuf.

Yusuf berpendapat, tingginya harga minyak dunia tidak serta-merta mempercepat program transisi energi terbarukan di dalam negeri secara otomatis. Hal ini disebabkan oleh tertahannya sinyal harga pasar ke konsumen akibat kebijakan proteksi harga melalui subsidi energi.

"Saya juga belum melihat ini sebagai tren kenaikan yang akan berlangsung terus hingga akhir tahun. Yang sedang dihargai pasar adalah premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik. Selama tidak terjadi gangguan pasokan yang nyata, harga minyak masih berpotensi turun ketika tensi mereda. Namun volatilitasnya kemungkinan tetap tinggi karena risiko di kawasan Timur Tengah masih besar," pungkasnya.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Rp 18.128, Pelemahan Konsumsi dan Timur Tengah Menekan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×