Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
Lebih jauh, transaksi tersebut dinilai menarik bagi industri karena jaringan bisnis Haji Isam telah mencakup pertambangan, perkebunan, biodiesel dan logistik, sehingga peluang sinergi antarbisnis berpotensi semakin terbuka.
Namun, Hendra mengingatkan investor perlu melihat struktur pendanaan transaksi, terutama karena nilai akuisisi yang dirumorkan mencapai US$ 5,5 miliar. Struktur pendanaan akan menentukan dampaknya terhadap perusahaan.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana transaksi tersebut dibiayai, apakah menggunakan kas, utang, penerbitan saham baru atau kombinasi beberapa sumber pendanaan. Jika terlalu banyak menggunakan utang, leverage perusahaan bisa meningkat,” ucap Hendra kepada Kontan belum lama ini.
Baca Juga: JARR, TEBE, PGUN hingga PACK Rally, Efek Spillover Rumor Akuisisi BYAN Oleh Haji Isam
Dari sisi fundamental, Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf RB Setiadi mencermati BYAN memiliki keunggulan struktural melalui skala produksi, integrasi logistik dan struktur biaya yang rendah.
“Keunggulan utama BYAN bukan hanya skala produksi, tetapi juga posisi biaya. Pada tahun buku 2025, cash cost BYAN tercatat US$M32,5 per MT, jauh di bawah panduan perusahaan sebesar US$ 39,1 per MT,” tulisnya dalam riset.
Adolf menyebut kinerja BYAN pada sepanjang 2025 mencatat produksi 68,0 juta ton dan penjualan 70,8 juta ton, sekaligus membukukan laba bersih US$784 juta meski harga batubara melemah secara umum.
Menurutnya, posisi BYAN diperkuat jaringan pit-to-port terintegrasi, mencakup jalan angkut internal, fasilitas pemuatan tongkang, tiga Kalimantan Floating Transfer dan Balikpapan Coal Terminal.
Baca Juga: Saham Bayan (BYAN) Melesat 19,97% di Tengah Rumor Akuisisi Haji Isam, Ini Kata Analis
Adolf menilai harga batubara yang membaik, pasokan Indonesia lebih ketat dan permintaan Asia menjadi katalis tambahan bagi produsen berbiaya rendah seperti BYAN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














