kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

RKAB Batubara UNTR Naik, Bisnis Tambang Mineral Terus Digenjot


Rabu, 23 September 2026 / 17:25 WIB
RKAB Batubara UNTR Naik, Bisnis Tambang Mineral Terus Digenjot
ILUSTRASI. PT United Tractors Tbk (UNTR) mendapat revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026 (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (UNTR) mendapat revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026, dari alokasi sebelumnya sekitar 7,4 juta ton.

Direktur Keuangan United Tractors Vilihati Surya menjelaskan tambahan RKAB tersebut menjadi peluang bagi UNTR meningkatkan produksi dan penjualan batubara pada paruh kedua 2026, meski terdapat tantangan operasional.

“Kabar baiknya, di Agustus 2026 kami sudah mendapatkan kenaikan RKAB ke 12,4 juta. Namun memang ada lagi tantangannya, makanya kami harus banyak berdoa,” jelasnya, Rabu (23/9).

Meski begitu, Vilihati bilang UNTR tantangan berikutnya berasal dari kondisi cuaca di Kalimantan Tengah yang memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas produksi batubara UNTR pada semester kedua.

Dengan adanya tambahan RKAB, UNTR akan mengoptimalkan produksi dan penjualan batu bara. Namun, sebagian produksi berpotensi disimpan sebagai persediaan sebelum penjualan dilakukan pada November hingga Desember 2026.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Bukukan Kontrak Baru Rp8,69 Triliun hingga Agustus 2026

“Jadi kami produksi dan nanti kami jualannya mungkin di November sampai Desember 2026 dan kami akan maksimalkan, sebagian kami simpan dulu dalam inventaris,” ucap Vilihati.

Di tengah revisi RKAB batubara tersebut, UNTR juga terus memperkuat diversifikasi bisnis pertambangan ke komoditas mineral. PAMA Group mulai memperluas aktivitas kontraktor pertambangan ke sektor emas dan nikel.

“Sekarang ini kami membaginya dua, yang pertama itu solusi pertambangan dan alat-alat. Kemudian yang kedua yaitu bisnis lainnya,” ucap Vilihati.

Menurut Vilihati, UNTR tidak hanya mengandalkan batubara termal, tetapi juga mengembangkan eksposur pada batubara metalurgi. Menurutnya, karakteristik permintaan kedua jenis batu bara tersebut berbeda.

“Kalau yang terkait dengan metalurgi, itu memang sampai saat ini belum ada substitusinya. Kalau batubara termal sudah ada substitusinya itu masuk sekarang dari renewable energy,” kata Vilihati.

Pada periode Januari–Agustus 2026, penjualan batubara termal dan metalurgi UNTR melalui PT Tuah Turangga Agung mencapai 8,37 juta ton. Realisasi ini melorot 19,44% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari posisi Agustus 2025 yang mencapai 10,39 juta ton.

Kinerja operasional sektor bisnis mineral non-batubara UNTR juga mengalami penurunan. Per Agustus 2026, penjualan emas dari Agincourt Resources dan Sumbawa Jutaraya melorot 73,91% YoY menjadi 42.000 ounces.

Kemudian penjualan bijih nikel lewat Stargate per Agustus 2026 mencapai 1,05 juta wet metric ton, yang terdiri dari 711.000 limonite dan 348.000 saprolite. Di periode yang sama pada 2025, penjualan bijih nikel UNTR mencapai 1,43 juta wet metric ton.

Equity Research JP Morgan Sekuritas Arnanto Januari menilai risiko dan imbal hasil saham UNTR mulai semakin positif karena kondisi industri terlihat mendukung potensi kenaikan harga batubara dalam jangka pendek.

Baca Juga: Astra International (ASII) Fokus 3 Bisnis Inti pada 2027, Ini Strategi Investasinya

“Ruang penurunan UNTR relatif terbatas karena posisi investor terhadap saham ini masih rendah serta adanya program pembelian kembali saham yang kuat,” tulisnya dalam riset yang dirilis 1 September 2026.

Arnanto memperkirakan excess free cash flow (FCF) UNTR setelah dividen sekitar US$ 330 juta pada 2027. Ini mengindikasikan program buyback sebesar Rp 2 triliun per kuartal dapat dipertahankan hingga tahun depan.

Dari sisi revisi RKAB batubara, Arnanto meyakini berita tambahan mengenai UNTR berpotensi menjadi lebih positif karena kuartal II-2026 menandai titik terendah kinerja laba entitas usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini.

“Revisi penuh RKAB kemungkinan hanya memberikan tekanan terbatas terhadap harga batubara, dengan asumsi produksi China tetap lemah dan permintaan impor tetap mendukung,” katanya.

Lebih lanjut, JP Morgan Sekuritas merekomendasikan overweight untuk UNTR dengan target harga Rp 30.200 untuk Juni 2027. Pada perdagangan Rabu (23/9), UNTR parkir di level Rp 24.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×