Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) memastikan proses Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue masih terus berjalan.
Manajemen CBRE dalam keterbukaan informasi di BEI pada Kamis (6/8/2026) menjelaskan perusahaan bersama pihak-pihak terkait terus berkoordinasi secara intensif guna memenuhi seluruh permintaan regulator sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen perusahaan untuk memastikan seluruh proses rights issue berlangsung secara tertib, transparan, serta sesuai dengan regulasi pasar modal.
"Sehubungan dengan proses evaluasi atas dokumen Pernyataan Pendaftaran PMHMETD telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini CBRE masih berada pada tahap pemenuhan atas beberapa hal yang menjadi perhatian dan permintaan klarifikasi dari OJK sebagai bagian dari proses penelaahan dokumen,” tulis Suminto Husin Giman Direktur Utama PT Cakra Buana Resources Energi Tbk.
Baca Juga: Cakra Buana (CBRE) Bakal Rights Issue, Andry Hakim dan Gabriel Rey Jadi Standby Buyer
Perusahaan ini menegaskan akan segera mengumumkan jadwal terbaru pelaksanaan rights issue melalui keterbukaan informasi BEI, situs resmi perusahaan, dan media resmi lainnya setelah seluruh tanggapan kepada OJK rampung.
Penguatan struktur permodalan melalui rights issue ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan usaha CBRE ke depan, seiring strategi ekspansi yang tengah dijalankan perusahaan, khususnya di sektor pelayaran dan energi.
Berdasarkan keterbukaan informasi sebelumnya, CBRE menjelaskan jika rights issue akan menerbitkan maksimal 12,76 miliar saham baru di harga Rp 100 - Rp 150 per saham. Sehingga dari aksi korporasi ini, CBRE bisa mengantongi dana segar sebesar Rp 1,28 triliun hingga Rp 1,91 triliun.
Perdagangan dan pelaksanaan HMETD semula dijadwalkan berlangsung pada 4–10 Juni 2026. Tapi rencana tersebut hingga kini belum juga terlaksana. Padahal perusahaan ini juga telah menunjuk pembeli siaga saham baru diantaranya PT Gunanusa Utama Fabricators , Global Tower Investment Limited, Andry Hakim dan Gabriel Rey
Dari sisi kinerja keuangan CBRE pada semester I 2026 berhasil mencatat lonjakan pendapatan lebih dari tiga kali lipat. Tapi CBRE masih menghadapi tekanan profitabilitas akibat meningkatnya beban operasional, beban keuangan, dan rugi selisih kurs.
Berdasarkan laporan keuangan tidak diaudit per 30 Juni 2026, pendapatan CBRE melonjak 205,90% menjadi Rp 88,96 miliar, dibandingkan Rp 29,08 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan beban pokok pendapatan yang meningkat 388,14% menjadi Rp85,63 miliar. Kondisi ini menyebabkan laba bruto tergerus 71,12% menjadi Rp 3,33 miliar.
Baca Juga: Jelang Rights Issue, Pemain Kripto Gabriel Rey Akumulasi Saham CBRE
CBRE juga masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 36,01 miliar pada semester I 2026, dari sebelumnya mencetak laba bersih Rp 900,05 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Kerugian tersebut terutama dipicu oleh melonjaknya sejumlah pos beban. Rugi selisih kurs meningkat drastis hingga 26.541,12% menjadi Rp 19,40 miliar. Sementara itu, beban keuangan naik 62,86% menjadi Rp 10,77 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi meningkat 8,29% menjadi Rp 8,75 miliar.
Menurut Suminto, peningkatan beban operasional dan beban keuangan merupakan konsekuensi dari investasi yang dilakukan CBRE untuk memperkuat kapasitas usaha dan membangun fondasi bisnis jangka panjang. Selain itu, kenaikan beban bunga pinjaman serta rugi selisih kurs akibat fluktuasi nilai tukar turut memengaruhi hasil bersih periode berjalan.
Dari sisi neraca, total aset CBRE hingga 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 2,02 triliun, tumbuh dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp 2,01 triliun. Struktur pendanaan Perseroan juga mengalami perubahan signifikan. Total liabilitas meningkat 2,53% menjadi Rp 2,01 triliun.
Di sisi ekuitas, posisi CBRE mengalami penyusutan cukup tajam. Total ekuitas turun 76,78% menjadi Rp 10,89 miliar dari sebelumnya Rp46,91 miliar, seiring meningkatnya akumulasi defisit sebesar 28,55% menjadi Rp 162,16 miliar.
Ke depan, manajemen CBRE mengaku akan tetap berfokus pada optimalisasi pemanfaatan aset, peningkatan efisiensi operasional, penguatan struktur keuangan, serta pengembangan peluang bisnis baru.
"Perusahaan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemegang saham, investor, regulator, kreditur, dan mitra bisnis atas kepercayaan serta dukungan yang diberikan selama proses rights issue berlangsung,” tutur Suminto dalam keterbukaan informasi di BEI pada Kamis (6/8/2026).
Per Kamis (6/8/2026) harga saham CBRE ditutup turun 0,72% di Rp 685 per saham.
Baca Juga: Cakra Buana Resources (CBRE) Terima Kredit US$ 45 Juta dari Bank Maybank
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
