kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.035   52,00   0,29%
  • IDX 6.186   -10,65   -0,17%
  • KOMPAS100 807   -4,25   -0,52%
  • LQ45 613   -2,23   -0,36%
  • ISSI 214   -0,32   -0,15%
  • IDX30 345   -1,11   -0,32%
  • IDXHIDIV20 427   -1,32   -0,31%
  • IDX80 92   -0,44   -0,48%
  • IDXV30 116   -0,47   -0,40%
  • IDXQ30 110   -0,53   -0,47%

Resmi! 2 Saham Masuk Indeks LQ45 Mulai 3/8/2026, Cek Daftar Saham Blue Chip Terbaru


Selasa, 28 Juli 2026 / 06:53 WIB
Resmi! 2 Saham Masuk Indeks LQ45 Mulai 3/8/2026, Cek Daftar Saham Blue Chip Terbaru
ILUSTRASI. BEI mengeluarkan SMGR dan TOWR dari LQ45 mulai 3 Agustus 2026. Posisinya digantikan INDY dan NCKL dalam evaluasi mayor indeks.


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daftar saham blue chip di Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) berubah mulai 3 Agustus 2026. Dua saham menjadi anggota baru Indeks LQ45 menggantikan dua saham lain yang dikeluarkan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) merombak komposisi Indeks LQ45 yang berlaku efektif mulai 3 Agustus 2026. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi dikeluarkan dari indeks saham unggulan tersebut dan digantikan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Berdasarkan hasil evaluasi berkala BEI yang diumumkan pada 27 Juli 2026, saham INDY masuk ke dalam Indeks LQ45 dengan bobot 0,25%, sedangkan NCKL memperoleh bobot sebesar 0,46%.

Perubahan komposisi tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi rutin yang mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari likuiditas perdagangan, kapitalisasi pasar, hingga fundamental emiten.

SMGR dan TOWR dinilai tidak lagi memenuhi kriteria yang ditetapkan BEI. Sepanjang tahun berjalan 2026, harga saham SMGR telah terkoreksi sekitar 45% hingga berada di level Rp 1.455 per saham. Sementara itu, saham TOWR melemah sekitar 30,6% ke level Rp 406 per saham.

Pelemahan harga saham tersebut turut memengaruhi likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar kedua emiten sehingga berdampak pada posisinya di dalam Indeks LQ45.

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (27 Juli 2026), INKP dan INCO Jadi Sorotan

Berpotensi Picu Penyesuaian Portofolio

Masuknya INDY dan NCKL ke dalam LQ45 berpotensi mendorong terjadinya passive inflow dari investor institusi maupun produk investasi yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi.

Sebaliknya, saham yang keluar dari LQ45 berpotensi mengalami tekanan jual dalam jangka pendek akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi dan reksa dana indeks.

INDY dan NCKL dipilih karena memiliki likuiditas perdagangan dan kapitalisasi pasar yang memenuhi kriteria BEI. Kehadiran kedua saham tersebut juga memperluas eksposur sektor dalam LQ45 yang selama ini masih didominasi oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Dengan bobot masing-masing 0,25% dan 0,46%, kedua emiten tersebut juga masih jauh di bawah batas maksimum bobot per saham dalam LQ45 yang ditetapkan sebesar 15%.

Tonton: Prabowo Resmi Tunjuk Asep Nana Mulyana Jadi Wakil Jaksa Agung, Hartanya Rp10,9 Miliar

Bobot Saham Perbankan Berubah

Evaluasi mayor kali ini juga mengubah komposisi bobot sejumlah saham perbankan yang menjadi konstituen utama Indeks LQ45.

Bobot saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun menjadi 15,00% dari sebelumnya 16,79%. Sementara itu, bobot PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun menjadi 13,23% dari 13,71%.

Di sisi lain, bobot PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru meningkat menjadi 10,91% dari sebelumnya 10,46%.

Perubahan bobot tersebut menunjukkan upaya BEI untuk menjaga diversifikasi indeks sekaligus membatasi konsentrasi pada saham-saham tertentu melalui penerapan batas maksimum bobot sebesar 15%.

Penurunan bobot BBCA dan BBRI membuka ruang bagi peningkatan proporsi saham non-perbankan dalam LQ45, termasuk emiten-emiten baru yang dinilai memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar yang memadai.

Bagi investor, perubahan konstituen dan bobot saham dalam LQ45 menjadi informasi penting karena berpotensi memengaruhi arus dana investasi, terutama dari produk reksa dana indeks maupun investor institusional yang menjadikan LQ45 sebagai acuan portofolio.

Rebalancing yang berlaku efektif pada 3 Agustus 2026 juga berpotensi meningkatkan volatilitas perdagangan saham-saham yang masuk maupun keluar dari indeks dalam jangka pendek, sebelum akhirnya kembali bergerak mengikuti fundamental masing-masing emiten.

Disorot Moody's, Saham Danantara Malah Kalahkan IHSG

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×