kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Saham Konglomerasi Kembali Dorong IHSG, Simak Prospeknya


Rabu, 03 Juni 2026 / 05:30 WIB
Saham Konglomerasi Kembali Dorong IHSG, Simak Prospeknya
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham emiten konglomerasi kembali bergerak menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.

IHSG pada hari Selasa (2/6) naik 1,11% ke level 6.195 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah emiten konglo terpantau masuk 10 besar penggerak indeks hari ini.

Misalnya, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang naik 25% pada perdagangan hari ini. Lalu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 24,85% dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 24,60%.

Dalam sepekan, BREN naik 18,28%, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) 17%, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) 16,75%.

Baca Juga: Wall Street Terus Catat Rekor, Investasi di Pasar Saham AS Bisa Jadi Opsi Alternatif

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan, penyebab kenaikan tajam saham-saham tersebut dalam sepekan terakhir dan hari ini utamanya didorong oleh aksi borong selektif (selective buying) di tengah jenuhnya penurunan pasar saham akibat sentimen rebalancing MSCI dan FTSE. 

“Ketika saham blue chip konvensional harganya tertekan oleh foreign outflow, modal domestik dan investor agresif beralih memutar dananya ke saham-saham konglomerat yang memiliki volatilitas tinggi serta pergerakan harga yang dinamis,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pemicu pergerakan tersebut adalah rebalancing MSCI yang sudah efektif pada 1 Juni 2026, sehingga tekanan forced selling mekanis sudah selesai. 

Akhirnya, pasar langsung respons dengan short covering agresif di saham yang sebelumnya koreksi dalam. Selain itu, ada faktor tambahan dari FTSE yang belum menerapkan zero price dan baru akan efektif pada 22 Juni mendatang.

Sehingga, ada waktu sekitar tiga minggu tanpa tekanan baru terhadap pasar saham Tanah Air yang dimanfaatkan market untuk melaju.

“Berlanjut atau tidak tergantung apakah ada katalis fundamental baru,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa.

David bilang, sentimen positif untuk emiten konglomerasi salah satunya berasal dari hilirisasi dan proyek energi bersih. Komitmen ekspansi ke sektor energi terbarukan, ekosistem kendaraan listrik (EV), dan hilirisasi komoditas menjadi magnet modal jangka panjang. 

“Pendanaan hijau global, seperti fasilitas kredit keberlanjutan dari foreign bank senilai US$4 miliar yang membidik Indonesia, menjadi katalis pembiayaan segar bagi proyek-proyek masa depan mereka,” ungkapnya.

Sementara, sentimen negatif berasal dari tekanan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan kurs rupiah. Lonjakan yield obligasi global US10 yield dan kenaikan BI-Rate menjadi 5,25% meningkatkan biaya pendanaan (cost of fund) korporasi. 

“Bagi emiten dengan utang valas besar, pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.846 per dolar AS dapat menggerus profitabilitas mereka,” paparnya.

Di tengah kondisi saat ini, David pun menyarankan investor untuk melihat saham-saham konglomerat secara objektif dan memisahkan antara pergerakan harga yang didorong oleh euforia atau spekulasi jangka pendek dengan pertumbuhan nilai intrinsik perusahaan. 

“Jangan terjebak membeli di harga puncak (fomo) hanya karena melihat persentase kenaikan harian yang fantastis,” katanya.

David menyarankan investor untuk mencermati saham RAJA dan PTRO dengan target resistance masing-masing di Rp 4.400 per saham dan Rp 6.000 per saham.

Wafi melihat, sentimen positif untuk emiten konglo adalah tekanan pasif MSCI yang sudah selesai, valuasi yang jauh lebih rasional setelah koreksi, serta beberapa emiten yang masih mempunyai fundamental bisnis yang masih solid. 

Sementara, sentimen negatif berasal dari FTSE zero price, kebijakan DSI yang belum jelas, dan volatilitas rupiah. 

Wafi melihat, PTRO dan BRPT dinilai lebih menarik, karena free float lebih sehat dan fundamental operasional solid. 

“BREN untuk jangka panjang menarik karena ada kontrak PLN take-or-pay, tetapi kinerja sahamnya masih rentan untuk jangka pendek,” katanya.

Dengan kondisi pasar saat ini, investor pun harus membaca hal ini sebagai trading opportunity, bukan sinyal akumulasi jangka panjang. 

“Strategi yang tepat adalah ride the rally dengan posisi kecil dan trailing stop loss ketat. Investor juga jangan mengejar harga dan tetapkan exit target sebelum masuk ke saham konglo,” tuturnya.

Baca Juga: Terkoreksi Cukup Dalam, Bagaimana Nasib Indeks Saham Sektor Energi?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×